Kebomas - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan tetap membela keputusannya untuk tidak melibatkan Inggris dalam serangan awal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan Starmer saat memberikan pembaruan situasi Iran kepada anggota parlemen di House of Commons pada Senin (2/3). Ia menyebut keputusan tersebut diambil secara sadar karena pemerintah meyakini jalur terbaik adalah penyelesaian melalui negosiasi.
"Kami tidak bergabung dengan serangan ofensif AS dan Israel. Dasar keputusan kami adalah pertahanan diri kolektif dari sahabat dan sekutu lama serta melindungi nyawa warga Inggris," katanya.
Menanggapi kritik Presiden AS Donald Trump, Starmer menegaskan bahwa tanggung jawab utamanya adalah menilai apa yang terbaik bagi kepentingan nasional Inggris. Ia menyatakan tetap pada keputusannya.
Trump sebelumnya mengatakan Starmer perlu waktu "terlalu lama" sebelum memberikan akses kepada AS ke pangkalan-pangkalan Inggris, menurut laporan media Inggris.
"Ini mungkin sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara negara kita. Kami sangat kecewa dengan Keir," kata Trump.
Namun, Starmer membedakan situasi awal konflik dengan perkembangan terbaru. Ia menyebut serangan balasan Iran sebagai tindakan "keterlaluan" yang kini menjadi ancaman langsung bagi rakyat Inggris, kepentingan nasional dan sekutu Inggris.
Menurutnya, sekitar 200.000 warga negara Inggris masih berada di Timur Tengah. Risiko yang mereka hadapi disebutnya "sangat mengkhawatirkan."
Starmer juga merujuk pada dampak langsung terhadap aset militer Inggris. Ia menyebut pangkalan militer Inggris di Bahrain dihantam Iran pada Sabtu, (28/02) saat sekitar 300 personel berada dalam jarak beberapa ratus meter dari lokasi serangan.
Selain itu, ia menyinggung serangan pesawat nirawak (drone) terhadap RAF Akrotiri di Siprus Yunani pada malam hari. Starmer memastikan tidak ada korban dalam insiden tersebut dan menegaskan bahwa pangkalan Inggris di Siprus tidak digunakan oleh pesawat pengebom AS.
Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan penilaian pemerintah, drone tersebut diluncurkan sebelum keputusan Inggris diumumkan.
Di tengah tekanan geopolitik dan dinamika aliansi trans-Atlantik, posisi London kini berada di titik krusial menjaga solidaritas dengan sekutu lama, sekaligus menahan eskalasi agar tidak menyeret Inggris lebih dalam ke konflik terbuka di kawasan.
Editor : M Firman Syah