RADAR SURABAYA - Kota Bethlehem di Tepi Barat kembali merayakan Natal secara meriah untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang Gaza pada 2023. Perayaan ini menjadi momen bersejarah karena berlangsung di tengah suasana penuh luka akibat konflik berkepanjangan, namun tetap menghadirkan semangat harapan dan solidaritas.
Ratusan jemaat berkumpul di Gereja Kelahiran Yesus, tempat yang diyakini sebagai lokasi kelahiran Yesus Kristus, untuk mengikuti misa malam Natal yang dipimpin oleh Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa.
Perayaan Natal di Bethlehem tahun ini terasa istimewa karena selama dua tahun terakhir, kota tersebut memilih untuk tidak menggelar perayaan besar sebagai bentuk solidaritas terhadap penderitaan warga Gaza.
Namun, pada Desember 2025, suasana kembali hidup dengan hadirnya misa, parade, dan dekorasi khas Natal.
Manger Square, alun-alun utama Bethlehem, dihiasi pohon Natal setinggi 15 meter yang dipenuhi lampu berwarna-warni.
Kehadiran pohon tersebut menjadi simbol kembalinya semangat perayaan setelah masa kelam perang.
Prosesi misa berlangsung khidmat dengan iringan musik organ dan paduan suara gereja.
Puluhan pendeta berjalan memasuki Gereja Kelahiran Yesus, diikuti oleh ribuan jemaat yang memenuhi bangunan bersejarah itu.
Banyak jemaat harus duduk di lantai karena kapasitas gereja tidak mampu menampung seluruh umat yang hadir. Meski sederhana, suasana penuh doa dan harapan terasa kuat di dalam gereja.
Dalam khotbahnya, Kardinal Pierbattista Pizzaballa menekankan bahwa kisah kelahiran Yesus tetap relevan di tengah situasi konflik yang melanda Palestina.
Ia menyampaikan pesan perdamaian dan solidaritas, terutama kepada komunitas Kristen kecil di Gaza yang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda darurat akibat perang.
“Kisah Kelahiran Yesus masih relevan hari ini. Ia membawa pesan perdamaian, harapan, dan kelahiran kembali,” ujar Pizzaballa.
Selain misa, parade Natal juga digelar di jalan utama Bethlehem. Anak-anak mengenakan kostum malaikat dan gembala, sementara kelompok musik memainkan lagu-lagu Natal tradisional.
Kehadiran parade ini menjadi hiburan bagi warga yang selama bertahun-tahun hidup dalam ketegangan.
Meski gencatan senjata antara Hamas dan Israel masih rapuh, warga Bethlehem tetap berusaha merayakan Natal sebagai simbol keteguhan iman dan harapan akan masa depan yang lebih damai.
Konteks politik dan sosial juga mewarnai perayaan ini. Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, ratusan ribu warga Palestina kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di tenda-tenda darurat. Kondisi tersebut membuat perayaan Natal di Bethlehem sebelumnya ditiadakan.
Tahun ini, meski luka konflik belum sepenuhnya sembuh, perayaan tetap digelar sebagai bentuk perlawanan terhadap rasa putus asa dan sebagai pengingat bahwa Bethlehem adalah pusat spiritual dunia yang tidak boleh kehilangan identitasnya.
“Natal di Bethlehem adalah pesan bahwa harapan tidak pernah padam, bahkan di tengah luka perang,” ujar Kardinal Pizzaballa.
Perayaan ini menjadi pengingat bahwa Bethlehem, kota kelahiran Yesus Kristus, tetap berdiri sebagai pusat spiritual dan simbol keteguhan iman, sekaligus menegaskan bahwa perdamaian adalah harapan yang selalu hidup di hati masyarakat Palestina. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari