RADAR SURABAYA - Pembangunan Benteng Prins Hendrik oleh Hindia Belanda selesai pada 1845. Lokasinya di Kelurahan Ujung, Semampir, Kota Surabaya.
Menyadari bahwa pembangunan tembok kota II membutuhkan biaya serta upaya yang besar, pemerintah Hindia Belanda bersama Gubernur Jenderal J.J. Rochussen mulai melakukan persiapan proyek besar pembangunan Pangkalan Militer Angkatan Laut (Marine Establisment) pada tahun 1846.
Pengiat Sejarah Surabaya Nanang Purwono menjelaskan, pembangunan pangkalan militer ini tidak terlepas dari rencana yang telah dirancang oleh Daendels pada tahun 1808.
Rencana untuk menjadikan Surabaya sebagai pangkalan militer Angkatan Laut Hindia Belanda.
"Letak Surabaya yang berada di selat Madura dan terbuka, baik dari arah barat (westvaarwater) maupun timur (oostvaarwater), menjadi alasan utama. Maka di Surabaya perlu dibangun pangkalan militer yang kuat untuk melindungi Jawa, khususnya Jawa Timur," ujarnya.
Menurut Nanang, di era pemerintahan Daendels, Surabaya telah dibangun menjadi pangkalan bengkel konstruksi artileri untuk melayani angkatan laut dan darat Hindia Belanda.
Sementara itu, di Pulau Menari yang berada di sebelah utara perairan Gresik atau sebelah barat Surabaya, dibangun Benteng Lodewijk yang dilengkapi dengan persenjataan berat.
"Keberadaan Benteng ini tidak lain juga untuk melindungi Surabaya dari serangan awal laut dari sebelah barat Surabaya (westvaarwater). Setelah tahun 1816 nama Benteng Lodewijk ini berubah menjadi Benteng Oranje dan kemudian Benteng Erfprins, sebelum akhirnya dibongkar pada 1857," jelasnya.
Ide pembangunan Pangkalan Militer Angkatan Laut (ME) sendiri baru dilanjutkan pada tahun 1822 ketika G.A.G.Ph. Baron van der Capellen menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa