SEJARAH Surabaya mencatat bahwa asal usul Rungkut berasal dari sebuah hutan yang lebat dan hanya dihuni oleh binatang.
Dalam bahasa Jawa, sejarah kawasan Rungkut di Surabaya selatan mempunyai makna hutan yang lebat dan banyak ditumbuhi semak belukar.
Pemerhati Sejarah Surabaya Nur Setiawan menjelaskan, kawasan Rungkut merupakan wilayah paling tenggara di Kota Pahlawan yang berbatasan langsung dengan Sidoarjo dan pesisir timur Kota Surabaya.
“Dahulu kawasan ini bisa dikatakan wilayah jabakota, karena berada di area karesidenan alias di luar pusat pemerintah Surabaya,” kata Wawan, sapaan akrabnya.
Lebih lanjut, Wawan mengatakan, pada abad ke-19, tepatnya pada masa kolonial, kawasan Rungkut sudah menjadi desa.
Karena tertera dalam peta administrasi pemerintah Hindia Belanda, otomatis kawasan Rungkut sudah dapat dihuni oleh masyarakat.
Namun tak ada catatan sejarah sosok siapa yang membabat alas Rungkut.
Kemudian dari wilayah ini bisa ditinggali oleh penduduk dan menjadi tempat untuk melaksanakan mata pencaharian.
Namun, menurut cerita tutur masyarakat ada dua tokoh yang dianggap berjasa babat alas ialah Kyai Abdul Karim dan Kyai Satari.
Kedua tokoh ini dianggap sebagai Bumiputera asli Rungkut sekaligus tokoh yang menyebarkan Agama Islam di sana.
“Untuk itu, ada beberapa rumah kuno juga masih bisa dijumpai di Jalan Kalirungkut sebagai bukti jejak-jejak peradaban masa lampau,” tambahnya.
Nah dari kisah-kisah tutur lainnya diriwayatkan dua pengikut pangeran Diponegoro juga berdiam diri di kawasan Rungkut.
Pasca pemadaman pemberontakan pangeran Diponegoro pada awal abad 19 oleh pemerintah kolonial. Seluruh pengikutnya menyebar di berbagai penjuru salah satunya di Rungkut.
“Dua pengikut tersebut berjuluk Mbah Menanggal dan Mbah Mujamal. Kedua tokoh itu menetap di Rungkut Surabaya sampai akhir hayatnya. Tetapi satu tokoh lagi yang terkenal di kawasan Surabaya raya yakni Sarip Tambak Oso, dalam catatan Belanda diceritakan saat dalam pelariannya ia bersembunyi di daerah Rungkut Surabaya,”ungkapnya. (jar/jay)
Editor : Jay Wijayanto