Pegiat Sejarah Surabaya Nur Satriawan mengatakan, balap merpati sudah ada sejak era zaman kolonial Hindia Belanda. Masyarakat Surabaya kala itu diduga sudah banyak yang memelihara burung merpati.
"Balap merpati diduga (sudah ada) sejak era kolonial Hindia Belanda, ini terbukti dengan adanya parikan (pantun tradisional) yang dilantunkan oleh tokoh seniman ludruk Cak Durasim, yakni Bekupon Omahe Doro Melok Nipon Tambah Sengsoro," jelas Nur Satriawan kepada Radar Surabaya.
Dalam parikan tersebut, lanjut Nur, bekupon memiliki arti rumah burung merpati. Dari parikan tersebut bisa disimpulkan bahwa masyarakat Surabaya, khususnya pria sejak dahulu sudah lekat dengan burung merpati sebagai binatang peliharaannya.
Menurut Nur, burung merpati kala itu tak hanya sebagai peliharaan dan ajang adu judi. Namun, juga dimanfaatkan oleh pejuang di era agresi militer Belanda tahun 1947-1949 sebagai alat komunikasi untuk mengantar surat.
"Burung merpati dipergunakan oleh para pejuang sebagai alat komunikasi untuk mengantar surat. Biasanya burung merpati pos yang digunakan para pejuang, karena jenis merpati pos dapat terbang puluhan kilometer," bebernya.
Menurutnya, keberadaan merpati sebagai binatang peliharaan di Surabaya masih ada hingga saat ini. Meski jumlahnya tak sebanyak dahulu. Namun, lanjut Nur, sayangnya kini ada yang dipakai sarana judi. Dia menyebut seharusnya pemerintah jeli melihat hal ini.
"Sebenarnya adu balap merpati bisa dilombakan mirip burung berkicau supaya perjudian dapat dikurangi karena dalam perlombaan ada pengawasan secara khusus dari asosiasi atau perkumpulan yang mewadahinya," tandasnya. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek