Rumah tersebut kini sudah ditetapkan menjadi cagar budaya dan menjadi Museum WR Soepratman. Pantauan Radar Surabaya, rumah berukuran 5x10 meter itu masih berdiri kokoh menghadap ke timur bercat warna putih.
Pada bagian depan rumah terdapat patung WR Soepratman memainkan biola. Selain itu juga terdapat taman kecil yang asri dilengkapi tulisan Museum WR Soepratman warna keemasan.
Salah satu penjaga museum WR Soepratman, Haris, 31, menyatakan, dahulu rumah tersebut merupakan rumah dinas kakak ipar WR Soepratman bernama Willem M van Eldik yang menikah dengan Roekiyem Soepratijah (kakak tertua WR Supratman). Selain kakak ipar, Willem M van Eldik merupakan guru musik WR Soepratman.
"Semenjak, usia 12 tahun WR Soepratman ikut kakaknya di Makassar. Pada masa remaja WR Soepratman mendapatkan pelajaran biola dari kakak iparnya Willem M van Eldik," ujar Haris kepada Radar Surabaya.
Dalam waktu singkat WR Soepratman sudah pandai memainkan biola dan menggubah lagu. Saat berusia 17 tahun dia juga bergabung sebagai pemain biola di Black and White Jazz Band sebuah kelompok musik yang dipimpin Willem M van Eldik. "Setelah dari Makassar, beliau ke Bandung bekerja sebagai wartawan koran lokal kaum muda," ucapnya.
Kemudian, lanjut Haris, setahun kemudian WR Soepratman pindah kerja sebagai wartawan di koran Sin Po. Dari profesinya sebagai wartawan WR Soepratman sering meliput aktivitas pergerakan-pergerakan pemuda Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan.
"Dari situ timbul rasa nasionalis beliau. Beliau ingin berjuang dengan caranya sendiri, bermain biola dan menciptakan lagu nasional atau lagu kebangsaan Indonesia Raya," sebutnya.
Setelah menciptakan lagu kebangsaan, gerak-gerik aktivitas WR Soepratman mendapat perhatian dari pemerintah Hindia-Belanda. Bahkan, WR Soepratman selalu pindah-pindah tempat tinggal.
"Akhirnya ke Surabaya, ke rumah kakak iparnya sini untuk sembunyi," paparnya. Namun, oleh pemerintah Hindia Belanda WR Soepratman tetap dipantau dan akhirnya ditangkap saat menyanyikan lagu Indonesia Raya di Jalan Embong Malang.
WR Soepratman, kata Haris, sempat ditahan di penjara Kalisosok. Setelah ditahan, kondisi WR Soepratman mulai sakit-sakitan. Selanjutnya, sempat dipulangkan ke rumah di Jalan Mangga 21 dan akhirnya wafat di kamar bagian depan rumah tersebut. "Beliau wafat tepat 17 Agustus 1938. Tinggal di sini kurang lebih hanya setahun," paparnya.
Saat ini rumah dijadikan museum. Setiap akhir pekan banyak yang datang dari kalangan pelajar dan mahasiswa. (rus/nur) Editor : Lambertus Hurek