RADAR SURABAYA – Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur (Jatim), Emil Elestianto Dardak, memastikan seluruh jajaran pemerintah dan pemangku kepentingan di daerah bersiaga menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino yang diprediksi mencapai puncak pada Agustus mendatang.
Hal itu disampaikan Emil usai memimpin rapat koordinasi bersama unsur Forkopimda, BPBD, Perhutani, hingga perwakilan kementerian terkait. Langkah ini diambil menyusul maraknya informasi di masyarakat terkait fenomena yang disebut-sebut sebagai Super El Nino.
“Dari paparan yang kami terima, ini harus disikapi dengan kesiapsiagaan penuh. Semua unsur kita libatkan, mulai dari Forkopimda, BPBD, hingga Perhutani karena ada potensi kerawanan di wilayah hutan,” ujarnya, Selasa (7/4).
Dalam rapat tersebut, lanjut Emil, Pemerintah Provinsi Jatim juga menerima paparan dari BMKG terkait kondisi El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang menunjukkan adanya gelombang kering dengan intensitas cukup tinggi. Kondisi ini diperkuat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang turut mendorong cuaca semakin kering.
Meski demikian, Emil menegaskan bahwa istilah Super El Nino tidak sepenuhnya tepat, namun memang terdapat peningkatan intensitas kekeringan yang perlu diantisipasi serius. “Intinya ada potensi kekeringan dengan intensitas lebih tinggi, dan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus,” jelasnya.
Baca Juga: Polda Jatim Ungkap Penjualan Komodo di Surabaya, Dijual Rp 5 Juta
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jatim mendorong percepatan masa tanam selama masih tersedia air, yakni pada April hingga Mei. Dengan demikian, panen diharapkan dapat berlangsung optimal sebelum puncak musim kemarau. “Begitu panen, jeda maksimal dua minggu harus langsung tanam lagi. Ini butuh timing yang presisi,” tegas Emil.
Selain itu, optimalisasi penggunaan air juga menjadi fokus, termasuk melalui penerapan metode pertanian hemat air seperti alternate wetting and drying system. Pemerintah juga telah mengoperasikan lebih dari 2.000 sumur bor dan akan menambah sekitar 1.800 titik baru tahun ini.
Baca Juga: Parkir Tunai Mulai Ditinggalkan di Surabaya, Ini Penampakan Voucher Digital Anti-Pungli
Di sisi infrastruktur, berbagai embung, waduk, dan dam di sejumlah daerah seperti Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Nganjuk, hingga Bojonegoro dimaksimalkan sebagai penampung air untuk menghadapi musim kering.
Namun Emil mengakui masih ada beberapa proyek strategis seperti Waduk Jabung dan infrastruktur di Madiun yang belum rampung, sehingga belum bisa sepenuhnya dimanfaatkan dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.
Baca Juga: Rapper Offset Jadi Korban Penembakan di Florida, Begini Kondisinya
Lebih lanjut, ia menyebut potensi kekeringan tersebar di berbagai wilayah lumbung pangan di Jawa Timur, mulai dari kawasan Mataraman seperti Ngawi dan Madiun, Pantura, hingga wilayah timur seperti Banyuwangi.
“Semua wilayah punya kerawanan, hanya berbeda timing. Ada yang mulai terasa Juni, tapi yang serentak itu Agustus,” ungkapnya.
Selain kekeringan, Pemprov Jatim juga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang biasanya meningkat saat musim kemarau panjang. Koordinasi lintas sektor, termasuk aparat penegak hukum, telah disiapkan untuk mengantisipasi hal tersebut.
Baca Juga: Ikan Kecil Asal Afrika Mampu Memanjat Air Terjun Setinggi 15 Meter
Dengan berbagai langkah tersebut, Emil berharap dampak kekeringan dan gangguan produksi pangan di Jawa Timur dapat ditekan semaksimal mungkin. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto