RADAR SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) mencatat, hingga 2024 terdapat 38 perusahaan air bersih yang beroperasi di Jawa Timur dengan 208 kantor cabang tersebar di kabupaten atau kota. Seluruhnya masih didominasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), tanpa keterlibatan penanam modal asing.
Kepala BPS Jatim, Zulkipli, menjelaskan dominasi pemerintah daerah dalam struktur permodalan menunjukkan layanan air bersih di Jatim masih menjadi kewenangan strategis daerah. Meski demikian, pemerintah pusat dan swasta nasional mulai berperan, meskipun proporsinya relatif kecil.
“Tidak ada penanaman modal luar negeri di perusahaan air bersih Jawa Timur. Investor utama masih pemerintah daerah, dengan dukungan pemerintah pusat di beberapa wilayah,” ujarnya, Jumat (2/1).
Berdasarkan wilayah bakorwil, pemerintah pusat tercatat menanamkan modal dengan proporsi terbesar di Bakorwil II sebesar 27,13 persen, disusul Bakorwil I 21,73 persen, Bakorwil III 13,50 persen, dan Bakorwil IV 12,71 persen. Sementara peran swasta nasional hanya terlihat di Bakorwil IV dengan proporsi di bawah satu persen.
Dari sisi kinerja produksi, Bakorwil IV yang meliputi wilayah perkotaan padat penduduk seperti Surabaya dan Sidoarjo mencatat efektivitas produksi air bersih tertinggi di Jawa Timur, mencapai 87,92 persen. Kapasitas mesin di wilayah ini mampu memproduksi hingga 18.782 liter per detik, dengan realisasi produksi rata-rata 16.513 liter per detik.
Sebaliknya, Bakorwil II memiliki kapasitas produksi mesin sebesar 2.847 liter per detik dengan produksi efektif 2.294 liter per detik, atau efektivitas sekitar 80,58 persen.
BPS juga mencatat kapasitas produksi air bersih di Jawa Timur selama lima tahun terakhir mengalami fluktuasi. Meski efektivitas produksi pada 2024 lebih rendah dibanding tiga tahun sebelumnya, secara volume total produksi justru mengalami peningkatan.
Pada 2024, produksi air bersih di Jawa Timur mencapai 873,74 juta meter kubik, naik 4,78 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sumber bahan baku terbesar masih berasal dari air sungai, dengan volume mencapai 400,4 juta meter kubik, disusul mata air dan air tanah.
Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan bagi PDAM di Jawa Timur untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan pasokan air bersih, seiring meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan air domestik maupun perkotaan. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto