Mojokerto – Langit mendung menyelimuti jalur wisata Pacet–Cangar. Hujan turun sejak pagi, membasahi jalan berkelok yang membelah lereng Gunung Welirang. Di tengah suasana libur Idul Fitri, sebuah keluarga kecil dari Sukodono, Sidoarjo, tengah dalam perjalanan silaturahmi menuju Bumiaji, Batu. Namun takdir berkata lain, pada Kamis siang (3/4) sekitar pukul 11.30 WIB, tanah dari tebing setinggi 50 meter longsor tiba-tiba.
Bongkahan tanah, batu, dan pohon tumbang meluncur cepat ke jalan. Satu unit Toyota Innova dan satu mobil pikap tak sempat menghindar, keduanya terempas ke dalam jurang sedalam 30 meter. Keenam penumpang Innova dan dua penumpang pikup dinyatakan tewas.
Kapolres Batu AKBP Andi Yudha Pranata membenarkan peristiwa tersebut. Ia memimpin langsung proses evakuasi korban yang berlangsung hingga Jumat pagi (4/4). “Kami berhasil mengevakuasi enam korban tanah longsor di daerah Pacet,” ujarnya.
Jenazah para korban dibawa ke RS Bhayangkara Hasta Brata, Kota Batu, menggunakan lima unit ambulans. Rumah sakit tersebut dipilih karena memiliki akses yang lebih mudah dan fasilitas medis memadai untuk proses identifikasi.
Salah satu korban yang berhasil diidentifikasi adalah Masjid Zatmo Setio ,30, pengemudi mobil yang juga kepala keluarga. Jenazahnya dimakamkan di TPU Dusun Paseban, Desa Kloposepuluh, Sukodono, pada Jumat dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.
Masjid tidak sendirian. Dalam perjalanan itu, ia bersama istrinya Rani Anggraeni ,28, kedua anaknya Syahrul Nugroho Rangga ,6, dan Putri Qiana Ramadhani ,2, orang tuanya H. Wahyudi ,71, dan Hj. Jainah ,61, serta mertuanya Saudah ,70,. Seluruh penumpang Innova merupakan warga Desa Kloposepuluh. Silaturahmi yang diniatkan menjadi momen bahagia berubah menjadi tragedi keluarga.
Proses identifikasi seluruh korban dilakukan dengan sistem biometrik MAMBIS. Ketika ditemukan, jasad para korban berada dalam kendaraan yang tertimbun material longsoran dan batu. Mereka dalam kondisi mengenakan pakaian lengkap, namun tanpa identitas yang melekat.
Peristiwa ini menambah deret panjang catatan kelam longsor di wilayah Pacet. Pada 2002, tragedi banjir bandang menghantam kawasan pemandian air panas Padusan setelah Hari Raya Idul Fitri. Kala itu, data kepolisian mencatat 26 korban tewas, rumah sakit menyebut 29, dan posko mencatat hingga 31 korban jiwa.
Longsor pertama di kawasan ini tercatat pada 1987, diikuti oleh longsor kedua pada 4 Desember 2002 yang tidak memakan korban. Peristiwa tahun 2002 merupakan yang paling mematikan hingga tragedi tahun ini.
Penyebab longsor di kawasan ini kerap dikaitkan dengan kondisi hutan yang rusak dan hilangnya fungsi daerah resapan air di lereng Welirang. Penebangan liar disebut menjadi faktor utama yang memperparah kerentanan lereng terhadap longsor.
Editor : M Firman Syah