Peningkatan jumlah pendaftar SMK dalam Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi kebanggaan bagi Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim. Sebab, Dindik Jatim menyiapkan tiga jalur bagi lulusan SMK. Diantaranya mampu menjadi karyawan yang profesional bila bekerja di perusahaan. Kemudian mampu berwirausaha dengan baik. Yang terakhir memiliki akademik yang baik sebagai bekal untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
“Alhamdulillah ketiganya berhasil dengan baik tercapai. Di samping ada peningkatan yang sangat signifikan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, juga ada penurunan yang signifikan pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Tahun 2022 adalah tahun pertama TPT lulusan SMK di Jatim berada di bawah TPT lulusan SMA, dan harusnya seperti ini," jelas Plt Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Jatim Wahid Wahyudi, Jumat (7/4).
Ia juga menyebut dalam menghasilkan lulusan yang kompeten sekolah harus selalu meningkatkan kurikulum, guru dan tenaga pendidikan (GTK), maupun sarana prasarananya. Termasuk kolaborasinya dengan stakeholder. Sebab, pendidikan itu dinamis yang juga dipengaruhi oleh perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang sangat pesat.
Sementara itu Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Warsono. Peningkatan pendaftar SMK yang mencapai 17 persen dalam SNBP, tahun ini menurutnya disebabkan oleh sempitnya lapangan kerja yag bisa dimasuki oleh lulusan SMK.
“Hal itu, diperkuat dari hasil Penelitian Studi lembaga demografi UI yang menunjukkan bahwa pengangguran tertinggi dari pendidikan vokasi adalah lulusan SMK. Kondisi ini mendorong lulusan SMK untuk mengambil pilihan melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut pria yang juga Ketua Dewan Pendidikan Jatim ini, juga didasari dari kurang adanya lapangan kerja, karena investasi yang masuk ke Indonesia tidak sebanding dengan jumlah lulusan SMK.
“Lulusan SMK kan sebagian dipersiapkan untuk bekerja di Industri. Lah, jika investasi tidak banyak yang masuk, berarti pertumbuhan (jumlah) industri juga tidak bertambah, sementara jumlah lulusan setiap tahun terus ada. akibatnya banyak lulusan SMK yang tidak bisa ditempung di dunia kerja (industri),” terangnya.
Karena itu, dalam mengatasi persoalan tersebut, pemerintah harus membuka lapangan kerja baru dengan mengundang para investor masuk ke Indonesia. Melalui peningkatan ivestor akan membuka lapangan kerja baru, paling tidak akan membutuhkan tenaga kerja.
Sementara dalam dunia pendidikan, dalam mengoptimalkan kompetensi siswa, Prof Warsono menyebut Jatim telah mempunyai program Bekerja Melanjutkan kuliah dan Wiraswasta (BMW) untuk SMK. Program tersebut harus terus didorong, terutama wiraswasta, sehingga anak lulusan SMK tidak hanya tergantung kepada lapangan kerja industri. Akan tetapi mampu mandiri menjadi wiraswata.
Di sisi lain SMK harus dilengkapi dengan bengkel-bengkel yang memadai untuk meningkatkan keterampilan siswa. “Jika sekolah tidak mampu menyediakan, Pemerintah harus menyediakan balai balai latihan kerja yang yang dilengkapi dengan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, yang bisa digunakan sebagai tempat praktek anak-anak SMK,” pungkasnya. (mus) Editor : Administrator