Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

14 SMP Ikuti Simulasi Sekolah Tatap Muka Selama 2 Pekan

Administrator • Selasa, 8 Desember 2020 | 17:50 WIB
14 SMP Ikuti Simulasi Sekolah Tatap Muka Selama 2 Pekan
14 SMP Ikuti Simulasi Sekolah Tatap Muka Selama 2 Pekan
SURABAYA - Sebanyak 14 sekolah jenjang SMP, baik negeri maupun swasta kelas IX di Surabaya, melaksanakan simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah, Senin (7/12). Simulasi melalui pembelajaran blended learning, yakni kombinasi proses belajar mengajar dengan tatap muka di sekolah dan online.

Simulasi tersebut merupakan bagian persiapan pembelajaran yang rencananya akan dilaksanakan pada Januari 2021 mendatang. Pelaksanaan simulasi berlangsung selama dua minggu. Seperti yang dilakukan di SMPN 1 Surabaya. Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Supomo meninjau langsung pelaksanaan simulasi pembelajaran tatap muka di sekolah tersebut.

Kepala SMPN 1 Surabaya, Akhmad Suharto mengatakan, simulasi pembelajaran tatap muka di sekolahnya berjalan lancar. Seluruh siswa yang hadir dalam kondisi sehat dan sebelumnya telah dilakukan swab test dengan hasil negatif Covid-19. ”Alhamdulillah berjalan lancar, seluruh siswa dalam kondisi sehat. Sebelumnya telah di-swab oleh Pemkot Surabaya. Yang mengajar juga guru­ guru umurnya di bawah 50 tahun,” katanya.

Suharto menjelaskan, simulasi belajar tatap muka hari pertama ini diikuti 18 pelajar kelas IX. Sementa­ra bagi pelajar lain, mere­ka dapat mengikuti pem­belajaran melalui online di rumahnya masing­-masing. ”Dari seluruh siswa kelas IX, sebanyak 405 anak itu materinya sama antara yang berada di rumah dan sekolah. Jadi siswa yang berada di rumah juga me­nerima pembelajaran yang sama,” paparnya.

Pihaknya juga menyiap­kan sarana prasarana pro­tokol kesehatan. Di anta­ranya pengecekan suhu tubuh menggunakan thermo gun, bilik sterilisasi, tempat cuci tangan, pene­rapan jaga jarak di kelas, hingga akses jalan oneway atau satu arah.

”Sara­na dan prasarana (proto­kol kesehatan, Red) sudah disiapkan Pemkot Sura­baya.  Hari  ini (kemarin, Red) mata pelajaran jam pertama 90 menit dan ke­dua 60 menit. Sementara ini, tidak ada kendala apa pun dan berjalan dengan lancar,” jelasnya.

Kepala Sekolah SMPN 28 Surabaya, Triworo Parnoningrum mengata­ kan, saat ini pihaknya me­layani dua rombel (rom­bongan belajar) selama si­mulasi PTM. Satu kelas diiisi oleh 14 siswa dengan tiga guru yang terdiri dari guru pengampu pelajaran dan guru pemantau pro­kes.

Sebelum masuk, siswa mendapatkan screening prokes dan kemudian di da­lam kelas dilakukan senam ringan untuk menjaga imu­nitas tubuh. Dalam pembe­lajaran pertama, siswa dia­jarkan mata pelajaran ma­tematika dan bahasa Ingg­ris. ”Jadi kami ajarkan mata pelajaran yang esensial dulu karena menghadapi ujian nasional untuk kelas IX,” jelasnya.

Meskipun begitu, para siswa juga ada yang tidak mendapatkan izin dari orang tua untuk mengikuti simulasi PTM. Karena untuk mengikuti PTM, orang tua harus membuat persetujuan. "Ada yang gak diijinkan karena orang tuanya gak bisa mengantarkan ke sekolah. Ada juga yang takut kesehatan anaknya. Paling cuma satu persen yang gak sepakat untuk anaknya mengikuti PTM," ungkapnya.

Selain meninjau simulasi belajar tatap muka di SMPN 1 Surabaya, Supomo juga meninjau beberapa sekolah swasta lain. Di antaranya, SMP YBPK 1 Surabaya dan SMP 17 Agustus 1945. Ini dilakukannya untuk memastikan pelaksanaan simulasi berjalan lancar tanpa ada kendala.

Kepala SMP YBPK 1 Surabaya, Erwin Darmogo menjelaskan, hari ini simulasi belajar tatap muka di sekolahnya diikuti 11 siswa kelas IX dari total 47 siswa. "Karena dari total 47 siswa yang diizinkan orang tua hanya 11 siswa," katanya.

Erwin mengaku, pihaknya memiliki kebijakan bagi setiap orang tua yang anaknya diizinkan mengikuti belajar tatap muka di sekolah agar bersedia antar jemput tepat waktu. Apabila orang tua tidak bersedia, maka pihak sekolah tidak mengizinkan. "Bagi orang tua yang siap antar jemput anaknya tepat waktu akan kami izinkan. Karena kami juga tidak ingin ada kerumunan-kerumunan di sekolah," jelasnya.

Meski demikian, kata Erwin, para orang tua tidak perlu khawatir anaknya tertinggal pelajaran meski belum diizinkan mengikuti belajar secara tatap muka. Sebab, pihaknya juga menerapkan sistem pembelajaran secara Blended-Learning atau kombinasi offline (tatap muka di kelas) dan online. "Jadi saat guru itu mengajar offline tatap muka dengan anak-anak sekaligus mengajar daring. Jadi anak-anak bisa join google meet, zoom dan yang tidak bisa dapat melalui youtube,"katanya.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Supomo mengatakan, simulasi ini adalah persiapan untuk sekolah tatap muka dalam masa pandemi Covid-19. Sebelum sekolah tatap muka resmi berjalan, maka diawali dahulu dengan simulasi. "Dengan harapan kami mendapatkan gambaran yang utuh apabila nanti sekolah dibuka dalam masa pandemi," katanya

Supomo menjelaskan, ada ketentuan-ketentuan yang dibuat di dalam proses belajar mengajar tatap muka pada masa pandemi Covid-19. Yakni, pelajar harus dalam kondisi sehat dan sebelumnya telah mengikuti swab dengan hasil negatif. Ketentuan ini berlaku pula bagi para guru maupun seluruh tenaga pendidikan yang hadir di sekolah.

"Kemudian ada persetujuan oleh orang tua. Jadi mereka semua (pelajar) yang datang di sekolah tatap muka harus mendapat persetujuan dari orang tua. Kemudian ada persetujuan dari komite sekolah dan selebihnya sarana prasarana protokol kesehatan harus disiapkan dengan kalkulasi jumlah murid yang datang," jelasnya.

Dalam melaksanakan simulasi sekolah tatap muka ini, pihaknya juga melibatkan lembaga yang concern di bidang kesehatan. Dengan harapan, mereka dapat memberikan masukan-masukan agar proses belajar tatap muka di sekolah berjalan lancar dan mencegah penyebaran Covid-19.

Melalui simulasi ini, pihaknya berharap mendapat gambaran yang utuh secara natural ketika siswa mengikuti pembelajaran di sekolah. "Misalnya ketika anak-anak keluar dari kelas maupun ke kamar mandi, kemudian ketika mereka istirahat di kelas. Sehingga kita dapat gambaran, dan apa yang kita lakukan ini agar benar-benar bisa mengendalikan penyebaran Covid," katanya.

Dalam simulasi yang berlangsung di hari pertama ini, Supo, diikut sebanyak 14 sekolah SMP Negeri dan Swasta yang tersebar di lima wilayah Surabaya yakni Surabaya Barat, Pusat, Utara, Selatan dan Timur. Jumlah pelajar yang mengikuti pun terbatas dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing sekolah.

"Jadi ini memang kita buat menyebar (lima wilayah Surabaya), agar kita mendapatkan gambaran kehadirannya mereka. Semuanya kelas IX, karena kami melihat mereka yang paling urgent untuk kemudian dilakukan sekolah tatap muka,"pungkasnya. (rmt) Editor : Administrator
#simulasi sekolah tatap muka #smp tatap muka #PTM #dispendik surabaya