Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dansa Ballroom Tak Asal Gerakkan Tubuh, Ada Pakemnya

Administrator • Selasa, 7 Juli 2020 | 15:44 WIB
Dansa Ballroom Tak Asal Gerakkan Tubuh, Ada Pakemnya
Dansa Ballroom Tak Asal Gerakkan Tubuh, Ada Pakemnya

SURABAYA - Ternyata berdansa tidak asal dan sembarang menggerakkan anggota tubuh. Dansa ada cara dan pakemnya yang perlu diperhatikan agar gerakannya teratur dan menampilkan gerakan yang sedap dipandang mata. 


Instruktur Dansa Didik Irianto mengatakan, meskipun dansa dilihat dengan kasat mata hanya sekadar menari mengikuti irama musik. Namun itu ada tata caranya yang disesuaikan dengan pakem.  “Standar jenis dansa yang digunakan ada lima  dalam kategori dansa ballroom, yaitu Chacaca, Jive, Rumba, Samba, dan Pasudubbli,” kata Didik.


Yang membedakannya adalah musiknya, karena setiap gaya dansa disesuaikan dari jenis irama musiknya. Musiknya sendiri rata-rata diambil dari Eropa disesuaikan dengan masing-masing gaya dansanya. 


Selain itu, standar dansa ballroom lainnya adalah Waltz, Tango, Quick Step, Foxstroot, dan Viennese Waltz. Ciri khas jenis dansa itu di sesuaikan dengan dresscode yang juga berasal dari Eropa. “Biasanya pakai tuxedo, dasi kupu-kupu dan celananya model komprang. Jadi kayak pesulap gitu,” jelasnya. 


Ketika berdansa juga tak lupa wajib memakai sepatu pantofel yang lentur. Sepatu khusus dansa diusahakan bagian dasarnya tidak terlalu kesat agar memudahkan gerakan dansa. Selain itu sepatu yang digunakan harus kondisi lentur dan  nyaman ketika digunakan.


Perkembangannya, saat ini dansa masih jarang diminati anak muda, lantaran kegiatan ini harus dilakukan secara berpasangan. Yakni pria dan wanita. Hal itu yang membuat jarang diminati karena dianggap tabu bagi sebagian orang. “Dansa ini jarang digemari anak remaja lantaran malu karena harus berpasangan saat berdansa. Kecuali di Bali, dansa ini banyak yang minat, kalau Surabaya sangat jarang,” urainya. 


Dalam sekali dansa, diberi durasi 90 detik, dalam waktu tersebut pedansa harus mengikuti irama musik yang telah disesuaikan. “Jadi gerakannya nggak asal, harus sesuai pakem-pakem tadi. Agar tercipta gerakan indah,” imbuhnya. 


Salah satu murid dansa asal Surabaya, Willy Filosofia dan Heru Satrianto mengaku ingin mempelajari lebih dalam dansa agar tidak setengah-setengah ketika menekuni hobi. Selain menekuni hobi, dansa merupakan sebuah olah raga tubuh yang menarik untuk dilakukan.


“Jadi untuk olah tubuh, karena sekarang di zaman seperti ini (pandemi, Red) butuh olah raga juga. Mau nge-gym kan tidak semuanya buka, jadi saya pilih yang simpel tapi dengan cara yang menyenangkan,” aku Willy.


Instruktur Belly Dance tersebut menjelaskan, ini menjadi hal baru dalam hidupnya. Maka dari itu harus dilakukan dengan cara yang benar oleh instruktur yang juga pengalaman. “Karena ini adalah dansa benar, dalam artian ini bukan asal menari. Tapi dansa yang menurut rule, bahkan ini tidak semua orang bisa melakukannya,” tutupnya. (gin/nur)


Editor : Administrator