Jangan pernah sekali-kali menggunakan sabu-sabu. Sebab jika sudah kecanduan, anak istri bisa terlantar dan karir pun bisa berantakan.
TIM Wartawan Radar Surabaya
Hari-hari Karin, 45, sungguh malang. Sebab suaminya, Donwori, 48, sukanya nyabu dengan teman-temannya. Padahal, Donwori termasuk terpandang di kampungnya. Harusnya bisa menjadi tauladan. Apalagi anaknya sudah remaja.
Sejak awal menikah, biduk rumah tangga Karin baik-baik saja. Namun sejak 2019 silam, badai rumah tangga mulai datang. Kerap berselisih paham hingga terjadi pertengkaran.
Donwori justru berubah menjadi pria yang keras kepala. "Karena sering cekcok, ya sudah akhirnya pisah ranjang. Sudah tidak bisa dibuat tauladan lagi mas. Makin keras kepala," ujar Karin.
Karin mengaku kesal karena Donwori kerap memakai obat-obatan terlarang. Sebagai istri, Karin tak pernah lelah mengingatkan. Meminta Donwori agar berhenti menjadi pemakai.
"Tapi ya percuma Mas. Ucapan saya enggak pernah didengarkan. Enggak pernah dihiraukan. Sudah berkali-kali saya ingatkan," bebernya.
Saat terjadi pertengkaran, keluarga besar juga sampai turun tangan. Katanya ingin Karin dan Donwori agar bisa hidup rukun kembali. Sayang, usaha tersebut hanya sia-sia belaka. Terlebih Donwori juga kerap pulang ke rumah orang tuanya.
Puncaknya, polah Donwori akhirnya ketahuan aparat. Donwori ditangkap, diadili, dan menghuni penjara sejak tahun lalu.
Akibatnya, Karin pun tak pernah lagi mendapat nafkah dari Donwori.
Merasa sudah tak ada harapan berumah tangga dengan Donwori, Karin ancang-ancang untuk minta cerai.
Ia sudah menghubungi pengacara, menyiapkan berkas hingga minta masukan dari keluarga besar.
“Tinggal nunggu keputusan dari anak. Kalau anak kami menyetujui, ya saya akan menggugat (cerai, red) Bapaknya. Tapi kalau anak keberatan, ya kita lihat dulu nantinya, Mas,” pungkas Karin ditemui Radar Surabaya saat berada di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Kelas IA Surabaya, sepekan lalu. (*/opi)
Editor : Jay Wijayanto