RADAR SURABAYA - Badan sepak bola Eropa, UEFA, resmi membuka penyelidikan atas dugaan penghinaan bernada rasial yang dilakukan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, terhadap winger Real
Madrid, Vinicius Junior. Insiden tersebut terjadi pada leg pertama babak gugur Liga Champions, 17 Februari 2026.
UEFA telah menunjuk seorang Inspektur Etik dan Disiplin untuk menangani kasus ini. Proses awal akan dimulai dengan menelaah laporan delegasi
pertandingan, dilanjutkan dengan pengambilan keterangan dari kedua pemain serta sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi kejadian, termasuk Kylian Mbappe dan Eduardo Camavinga.
Terancam Sanksi Berat Sesuai Pasal 14
Apabila terbukti bersalah, Prestianni berpotensi menerima hukuman berat. Berdasarkan Pasal 14 Kode Disiplin UEFA, tindakan pelecehan
diskriminatif dapat dikenai sanksi minimal larangan bermain 10 pertandingan atau hukuman berbasis waktu, disertai kemungkinan denda maupun sanksi tambahan lainnya.
Waktu menjadi faktor krusial karena leg kedua akan digelar di Stadion Santiago Bernabeu pada Rabu pekan depan. UEFA diharapkan segera mengambil keputusan agar tidak memengaruhi jalannya pertandingan penentuan tersebut.
Sebagai perbandingan, musim lalu kasus serupa dalam laga Atlético kontra Real Madrid membutuhkan waktu 10 hari untuk diputuskan.
Putusan dijatuhkan tiga hari sebelum leg kedua, dengan sanksi larangan satu pertandingan kepada Antonio Rüdiger dan Mbappe, serta denda kepada beberapa pemain, termasuk Dani Ceballos.
Bantahan Benfica dan Reaksi FIFA
Pihak Benfica secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Prestianni. Melalui media sosial, sang pemain membantah telah melontarkan penghinaan kepada Vinícius.
Klub juga menegaskan komitmennya terhadap nilai kesetaraan, rasa hormat, dan inklusi dengan menyebut legenda mereka, Eusebio, sebagai simbol perjuangan melawan diskriminasi.
Sementara itu, Mbappe mengaku mendengar ujaran tersebut sebanyak lima kali. Benfica juga mengedarkan rekaman video yang diklaim
menunjukkan para pemain Real Madrid berada terlalu jauh untuk dapat mendengar secara jelas apa yang disebut sebagai penghinaan.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan rasa terkejut dan keprihatinannya atas dugaan insiden tersebut.
Ia menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi rasisme dalam sepak bola dan meminta adanya pertanggungjawaban jika pelanggaran terbukti.
Kasus ini kembali menyoroti komitmen sepak bola Eropa dalam memerangi rasisme di lapangan. Keputusan UEFA dalam beberapa hari ke depan akan menjadi sorotan, terutama menjelang laga penentuan di Madrid.(rak)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan