RADAR SURABAYA - Manchester United mencatatkan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah klub, yakni sebesar Rp12,9 triliun (£665,5 juta), meskipun mengalami kerugian finansial sebesar Rp358,8 miliar (£18,4 juta) dan melakukan PHK terhadap lebih dari 300 staf.
Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar-besaran yang dipimpin oleh pemilik minoritas, Sir Jim Ratcliffe, melalui grup Ineos.
Musim Terburuk, Pendapatan Tertinggi
Meski finis di posisi ke-15 dalam Liga Primer Inggris, klub asal Old Trafford ini berhasil mencetak rekor pendapatan berkat peningkatan signifikan dari sektor komersial dan hari pertandingan.
Kesepakatan dengan sponsor utama, Snapdragon, menjadi salah satu pendorong utama lonjakan pendapatan.
EBITDA Tertinggi di Eropa Sejak Pandemi
Klub juga mencatatkan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) sebesar Rp3,5 triliun (£182,5 juta), menjadikannya yang tertinggi di antara klub Eropa sejak pandemi COVID-19. Angka ini dianggap sebagai indikator utama kinerja bisnis dalam industri sepak bola.
Belanja Transfer dan Penurunan Gaji
Meski mengalami kerugian, Manchester United tetap aktif di bursa transfer musim panas dengan pengeluaran sekitar Rp3,9 triliun (£200 juta) untuk mendatangkan pemain seperti Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, Benjamin Sesko, dan Senne Lammens.
Di sisi lain, gaji pemain turun drastis akibat kegagalan lolos ke Liga Champions dan kepergian sejumlah pemain bergaji tinggi.
Investasi Infrastruktur dan Rencana Stadion Baru
CEO Omar Berrada mengungkapkan bahwa klub tengah berinvestasi dalam pembangunan kembali fasilitas pelatihan senilai Rp975 miliar (£50 juta) di Carrington, serta merancang stadion baru di Old Trafford sebagai bagian dari regenerasi komunitas.
“Pendapatan rekor di tahun penuh tantangan menunjukkan ketangguhan Manchester United. Kami terus berinvestasi demi kesuksesan di lapangan dan memperkuat fondasi bisnis klub,” ujar Berrada.