
Radar Surabaya – Es kopi susu kini menjadi minuman favorit banyak kalangan muda, khususnya Generasi Z. Tak sekadar mengikuti tren, pilihan terhadap kopi dingin dinilai mencerminkan perubahan gaya hidup yang mengutamakan kepraktisan, cita rasa, dan pengalaman menikmati minuman.
Di kalangan mahasiswa maupun pekerja muda, segelas es kopi susu kerap menjadi teman beraktivitas. Dibandingkan kopi panas, minuman ini dianggap lebih menyegarkan sekaligus membantu meningkatkan fokus berkat kandungan kafeinnya.
Salah satu alasan utama adalah efek kafein yang mampu mengurangi rasa kantuk dan meningkatkan konsentrasi. Sensasi dingin dari es kopi juga memberikan rasa segar yang membuat banyak orang merasa lebih berenergi saat menjalani aktivitas padat.
Selain itu, es kopi susu memiliki cita rasa yang lebih mudah diterima berbagai kalangan. Campuran susu dan pemanis menghasilkan rasa yang lebih lembut (creamy) dibandingkan kopi hitam yang cenderung pahit atau asam. Bagi sebagian orang, tambahan susu juga membuat kopi terasa lebih nyaman di lambung.
Faktor lain yang membuat es kopi susu digemari adalah banyaknya pilihan rasa. Mulai dari gula aren, karamel, hazelnut, hingga butterscotch, berbagai inovasi menu membuat konsumen tidak mudah bosan. Tren ini terus berkembang seiring kreativitas pelaku usaha kopi dalam menghadirkan varian baru.
Kemudahan memperoleh produk juga menjadi daya tarik tersendiri. Es kopi susu kini tersedia di berbagai gerai, mulai dari kedai kopi lokal hingga jaringan waralaba, dengan harga yang relatif terjangkau. Beragam promo dari aplikasi pemesanan makanan dan minuman turut mendorong tingginya minat masyarakat terhadap minuman ini.
Meski demikian, para ahli mengingatkan agar konsumsi es kopi susu tetap dilakukan secara bijak. Kandungan gula, krimer, dan kalori yang cukup tinggi pada sebagian produk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang.
Agar tetap dapat menikmati kopi tanpa mengabaikan kesehatan, konsumen disarankan memilih opsi less sugar, membatasi frekuensi konsumsi, serta tetap menjaga pola makan dan gaya hidup sehat. (nor/fir)
Editor : M Firman Syah