RADAR SURABAYA – Bulan suci Ramadan identik dengan momen refleksi diri, peningkatan ibadah, serta kebersamaan bersama keluarga. Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul fenomena baru yang cukup populer di kalangan masyarakat perkotaan, yakni Sahur Run.
Sahur Run merupakan aktivitas lari yang dilakukan pada malam hari menjelang waktu sahur. Kegiatan ini memadukan tradisi makan sahur dengan olahraga lari, sehingga menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin tetap aktif selama menjalankan ibadah puasa.
Berbeda dengan ajang lari pada umumnya yang digelar pada pagi hari, Sahur Run biasanya berlangsung mulai pukul 23.00 hingga menjelang waktu imsak.
Baca Juga: Kesadaran Hidup Sehat Meningkat, Layanan Sport Clinic Banyak Tangani Cedera Olahraga
Konsep ini muncul karena banyak pelari kesulitan menemukan waktu olahraga yang ideal selama Ramadan. Berlari pada siang hari berisiko menyebabkan dehidrasi karena tubuh tidak mendapatkan asupan cairan. Sementara itu, olahraga menjelang waktu berbuka juga kerap terasa berat karena tubuh telah menahan lapar dan haus sepanjang hari.
Karena itu, malam hari dipilih sebagai waktu yang lebih aman dan nyaman. Selain suhu udara yang lebih sejuk, tubuh juga sudah mendapatkan asupan energi dan cairan setelah berbuka puasa.
Tidak sedikit masyarakat yang tertarik mengikuti Sahur Run karena berbagai manfaatnya. Salah satunya membantu menjaga kebugaran tubuh selama Ramadan. Setelah makan malam, tubuh memiliki cadangan energi yang cukup sehingga aktivitas lari dapat dilakukan tanpa risiko cepat lemas.
Selain itu, olahraga lari juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan jantung serta membantu mempertahankan metabolisme tubuh, meskipun pola makan berubah selama bulan puasa.
Baca Juga: Dirikan Koperasi, KONI Jatim Bangun Ekosistem Ekonomi Olahraga Berkelanjutan
Dari sisi psikologis, Sahur Run juga memberikan pengalaman yang menyenangkan. Suasana kota yang lebih tenang pada malam hari, ditambah interaksi dengan komunitas pelari, dapat menghadirkan rasa bahagia sekaligus menjadi sarana melepas stres.
Bahkan, beberapa penyelenggara mengemas Sahur Run sebagai kegiatan sosial atau charity run, di mana sebagian biaya pendaftaran disalurkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Meski demikian, Sahur Run tetap memiliki sejumlah tantangan. Spesialis kedokteran olahraga, dr. Andhika Raspati, menjelaskan bahwa aktivitas tersebut memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.
“Plusnya mungkin orang masih bisa makan minum sepuasnya, maksudnya tidak ada larangan makan dan minum. Tapi yang menjadi minusnya, yang saya lihat pribadi, jika lari pada pukul dua pagi, apakah sebelumnya tidak tidur?” ujarnya.
Baca Juga: Makin Digemari, Padel Butuh Lapangan dengan Atap yang Sesuai Standar Infrastruktur Olahraga Modern
Karena itu, bagi masyarakat yang ingin mencoba Sahur Run disarankan mempersiapkan diri dengan baik. Pilih jarak lari yang sesuai dengan kemampuan, gunakan perlengkapan yang nyaman, serta pastikan tubuh tetap mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Dengan persiapan yang tepat, Sahur Run dapat menjadi cara seru untuk tetap aktif sekaligus menikmati suasana Ramadan dengan cara yang berbeda. (shf/fir)
Editor : Muhammad Firman Syah