Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tren Percintaan Gen Z, Terlihat Romantis tapi Sebenarnya Toxic dan Manipulatif

Muhammad Firman Syah • Jumat, 17 Oktober 2025 | 18:05 WIB
Hubungan percintaan gen z yang manipulatif.
Hubungan percintaan gen z yang manipulatif.

Radar Surabaya — Hubungan asmara di era modern semakin kompleks, terutama di kalangan Generasi Z. Dalam dunia yang serba cepat dan terhubung secara digital, batas antara kasih sayang tulus dan manipulasi emosional sering kali kabur. Tak sedikit hubungan yang tampak romantis di permukaan, namun sebenarnya menyimpan pola toxic yang bisa menguras energi emosional dan mental.

Fenomena ini muncul dalam berbagai bentuk, bahkan sering menjadi tren di media sosial. Meski terlihat menarik, sejumlah perilaku berikut justru dapat menjerumuskan seseorang dalam hubungan yang tidak sehat.

Delusionship

Delusionship terjadi ketika seseorang merasa memiliki hubungan romantis, padahal kenyataannya tidak pernah ada. Individu terjebak dalam ilusi kedekatan emosional yang ia ciptakan sendiri, hingga menghabiskan waktu dan perasaan untuk harapan semu. Kondisi ini sering dipicu oleh interaksi digital yang intens tanpa kepastian nyata.

Love Bombing

Sekilas tampak manis, love bombing adalah bentuk manipulasi di mana seseorang memberikan perhatian berlebihan di awal hubungan agar pasangannya cepat terikat secara emosional. Namun setelah itu, pelaku kerap berubah menjadi dingin, menarik diri, atau bahkan mencoba mengendalikan pasangannya.

Fake Ups

Istilah ini menggambarkan pasangan yang pura-pura berpisah demi menciptakan drama atau sensasi rindu. Meski tampak sepele, perilaku tersebut dapat menimbulkan kebingungan, ketegangan emosional, dan membuat hubungan berjalan tanpa arah yang jelas.

Breadcrumbing

Breadcrumbing adalah tindakan memberi perhatian kecil secara berkala hanya untuk menjaga minat seseorang tanpa niat serius menjalin hubungan. Korban sering kali terjebak dalam harapan palsu karena merasa hubungan itu bisa berkembang, padahal sebenarnya tidak lebih dari permainan perasaan.

Chameleoning

Chameleoning terjadi ketika seseorang mengubah kepribadian atau minat secara berlebihan demi menyenangkan pasangan. Sikap ini berpotensi mengikis jati diri dan membuat individu kehilangan autentisitas. Dalam hubungan yang sehat, penerimaan dan kejujuran jauh lebih penting daripada berpura-pura demi cinta.

Meski sebagian perilaku di atas tampak wajar di awal hubungan, Gen Z perlu lebih peka dalam mengenali tanda-tanda hubungan yang manipulatif.

Kunci untuk menghindari hubungan beracun terletak pada komunikasi yang terbuka, batasan yang jelas, dan kemampuan mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. (bil/fir)

Editor : M Firman Syah
#manipulatif #toxic #Gen Z #Love Bombing #percintaan