RADAR SURABAYA - Mahasiswa program studi (Prodi) Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra (UC) Surabaya, menerjemahkan rasa empati mereka ke dalam sebuah kegiatan kolaboratif yang inspiratif.
Dengan bimbingan dari Janet Teowarang, para mahasiswa ini berkolaborasi dengan Yayasan Dmart Tithiek Tenger, yang merupakan organisasi sosial dengan mengayomi anak-anak berkebutuhan khusus.
Hasil kolaborasi tersebut berupa karya-karya desain yang tidak hanya mengedepankan kreativitas, tetapi juga menjadi jembatan penghubung antara dunia seni dan kepedulian terhadap sesama.
Salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk mengangkat nilai karya batik artisan Topeng Malangan yang selama ini dinilai belum kompetitif di pasar, terutama di kalangan generasi muda.
Dosen Fashion Design and Business UC Surabaya, Janet Teowarang mengatakan, kegiatan ini diawali dari tiga kain batik bermotif khas hasil karya artisan difabel.
Selanjutnya dipindai secara digital dan dicetak dalam skala kecil menggunakan tinta ramah lingkungan.
Dari sinilah, busana mini untuk boneka Barbie diciptakan sebagai media eksplorasi sejarah fashion dunia yang dimodernisasi.
“Ini bagian dari mata kuliah Fashion and Culture yang kami kemas dengan isu sosial inklusi melalui desain,” kata Janet dalam keterangannya, Kamis (1/4).
Mahasiswa Fashion Design and Business, Vallysha Christian Happy dan Jennifer Christella Wijaya menghadirkan koleksi bergaya feminin ala 1940–1950-an.
Dengan siluet A-line, atasan putih berkerah tinggi yang menyatu dengan lengan, serta aksesori vintage, karya ini memancarkan keanggunan klasik yang tetap relevan di masa kini.
Sementara itu, Gusti Agung Istri Krisna Kirana Kepakisan dan Audriana Clarissa memilih pendekatan berbeda.
Mereka menggabungkan semangat bohemian 70-an dengan warna-warna psychedelic dalam desain flare-leg pants dan atasan halter. Kesan etnik modern bertemu keberanian berekspresi khas anak muda.
Tak kalah menarik, koleksi dari Rebecca Hagia Pranoto dan Melanie Gunawan Puteri mengambil inspirasi dari siluet busana 1950–1960-an.
Mereka menyulap full skirt menjadi balloon skirt yang playful, dipadukan dengan atasan sleeveless dan pita leher sebagai simbol kelembutan dan keanggunan era tersebut.
Motif topeng tradisional tampil mencolok di bagian rok, memperkuat unsur lokalitas. Lebih dari sekadar karya busana, para mahasiswa juga melakukan re-desain terhadap motif batik.
Motif-motif lama diberi sentuhan segar agar lebih menarik di mata generasi muda. Proyek ini diharapkan dapat membuka jalan bagi batik karya difabel untuk menembus pasar fashion kontemporer. (sam/nur)
Editor : Nurista Purnamasari