Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jaga Kesehatan Gigi, Kurangi Konsumsi Es dan Makanan Manis untuk Cegah Karies

Rahmat Sudrajat • Rabu, 16 Oktober 2024 | 02:10 WIB
RUTIN PERIKSA ENAM BULAN SEKALI: Seorang dokter gigi melakukan pemeriksaan kesehatan gigi salah satu pasiennya, di RSGMP Nala Husada Surabaya, Selasa (14/10).
RUTIN PERIKSA ENAM BULAN SEKALI: Seorang dokter gigi melakukan pemeriksaan kesehatan gigi salah satu pasiennya, di RSGMP Nala Husada Surabaya, Selasa (14/10).

RADAR SURABAYA – Saat cuaca panas sering kali orang mengkonsumsi es untuk melepas dahaga.

Namun mengkonsumsi es berlebih, apalagi dengan ditambahkan dengan perasa manis sering kali gigi mudah sensitif dan menjadi rapuh yang bisa menyebabkan karies atau gigi berlubang. 

Menurut dokter gigi dari Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) Nala Husada, drg Basroni, usia paling rentan terkena pada anak-anak, terlebih juga di usia dewasa yang sering mengalami gusi surut, gigi berlubang lebih memungkinkan terbentuknya di akar gigi.

Dia menyebut yang paling banyak mempengaruhi karies adalah minuman dingin yang bercampur dengan rasa manis dan juga panas.

"Kalau panas gini pinginnya es dan manis-manis atau biasanya setelah minum es minum kopi panas. Nah, itu yang menyebabkan lubang gigi (karies) bisa merusak struktur gigi sehingga mudah kropos," tutur drg. Basroni, Selasa (15/10).

Oleh karena itu, untuk menghindari atau mencegah karies wajib gosok gigi pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

Selain itu banyak mengkonsumsi asupan air mineral dan mengurangi air dingin yang ada rasa manisnya.

Bahkan gosok gigi setelah sarapan harus ada jeda 30 menit, tidak boleh langsung gosok gigi.

"Karena makanan sifatnya manis kalau gosok gigi akan menjadi asam, pH akan turun kalau turun pasti kropos," terangnya.

Sementara itu, dia menyebut dari data RSGMP Nala Husada Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya, tahun 2023 tercatat adanya peningkatan jumlah kunjungan pasien hingga 85 persen dibandingkan 2022.

Namun ada penurunan jumlah penderita gigi berlubang akibat karies di Jawa Timur dari 42,40 persen, menurut data Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) menjadi 38,6 persen menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) di tahun 2023.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat agar rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali.

Karena menurutnya selama enam bulan gigi dan mulut menimbulkan karies.

"Jadi mumpung tidak terjadi kelainan pada gigi, harus rutin sejak dini memeriksa ke dokter gigi enam bulan sekali. Agar karies tidak parah dan semakin rumit dalam merawatnya," imbaunya.

Lebih lanjut drg Basroni menuturkan, semakin dalam karies maka bisa menjalar pada saraf gigi sehingga perawatan menjadi ekstra.

"Lubang jika terkena jaringan enamel atau jaringan terluar gigi bisa ditambal, tapi kalau sudah terkena saraf gigi harus dilakukan perawatan saluran akar. Walaupun sudah dilakukan melalui saluran akar gigi tetap menjadi rapuh. Sehingga idealnya dilakukan pembuatan mahkota selubung di gigi tersebut biar lebih kuat," ungkap drg Basroni.

Yang paling sering karies muncul pada gigi belakang. Karena menurutnya anatomi gigi belakang bentuk banyak lekukan sehingga susah untuk dibersihkan bagi makanan yang nempel.

"Kalau tidak rutin membersihkan gigi otomatis banyak makanan yang numpuk, banyak menyebabkan lubang gigi. Biasanya itu terjadi (karies) di gigi belakang," jelasnya.

Sementara itu, di Jawa Timur, jumlah masyarakat yang menyikat gigi di waktu yang tepat telah meningkat lebih dari dua kali lipat, yaitu dari 1,8 persen berdasarkan pada riskesdas 2018.

Selain itu, Riskesdas mencatat tahun 2018 mencatatkan 95,7 persen masyarakat Jawa Timur tidak berkonsultasi ke dokter gigi selama setahun. Namun 2023 menunjukkan perbaikan menjadi 91,9 persen. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#karies gigi #universitas hang tuah surabaya #kesehatan gigi #minum es #bulan kesehatan gigi nasional