Salah satu yang sedang hits saat ini adalah Channa Maru. Siapa sangka ikan dengan nama latin Channa Marulioides ini asli dari Indonesia. Banyak ditemukan di Kalimantan dan Sumatera, ikan ini juga dikenal sebagai ikan gabus atau ikan kutuk.
Jika awalnya banyak disajikan di meja makan, kini ikan tersebut banyak disajikan di meja kontes. Rupanya si predator air tawar di sungai gambut itu memiliki keunikan tersendiri.
Salah satunya adalah keberadaan corak batik atau biasa juga disebut dengan corak bunga di badannya. Corak inilah yang menjadi pembeda dengan jenis Channa lainnya. Yang membedakan lagi adalah adanya bar.
“Bar atau garis-garis ini ada pada bagian tubuh Channa Maru. Ada dua yang dikenal, yaitu Channa Maru Red dan Channa Maru Yellow. Ini milik saya Channa Maru Yellow sentarum. Berasal dari Danau Sentarum Kalimantan,” ujar Putra, kolektor Channa.
Pria yang kerap disapa Grock tersebut mengaku, Channa Maru Yellow Sentarum miliknya itu sudah berumur dua tahun. Cara merawatnya juga mudah. Makanannya pun juga mudah. Mulai udang, cacing hingga pelet.
Namun dirinya kerap memberi makan Channa miliknya dengan udang. Ketertarikannya dengan Channa dimulai sejak akhir 2018 silam. Warnanya yang unik nan cantik dan sikapnya yang beringas membuat Grock jatuh hati padanya.
Warna yang ada pada Channa Maru membuat harganya mahal. Mencapai puluhan juta, baik red maupun yellow. “Memang Channa sudah tak lagi dikenal sebagai ikan konsumsi. Tapi sudah menjadi ikan hias. Ada banyak kontes dan komunitas di dalamnya. Biasanya yang dinilai adalah segi mental, adaptasi, warna, bunga, hingga anatomi,” beber Grock.
Selain Channa Maru, Grock juga mengoleksi Channa lainnya. Di antaranya si gabus dari India, Aurantimaculata dan Andrao. Ada pula dari Thailand, Channa Surathani, Channa Asiatica dari China hingga Channa Puchra dari Myanmar. Ukurannya pun juga beragam, ada yang 55 centimeter.
Grock mengaku, Channa dapat menjadi pilihan ikan hias alternatif. Apalagi air yang digunakan juga tak perlu macammacam. Terlebih Channa dapat berpuasa satu hingga dua minggu dalam aquarium.
Namun jika di alam bebas, Channa dapat tak makan hingga satu bulan lamanya. Meski begitu, dirinya memilih untuk merawat dengan memberi makan setiap hari. Udang menjadi andalannya.
Bahkan keberingasan si predator air itu terlihat saat melihat atau membau udang di tangannya. “Jika tak ditutup bagian atasnya, bisa melompat keluar aquarium,” terangnya. (far/nur) Editor : Administrator