Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dibangun Rp 1 M, Landmark Gajah Mungkur Malah Lucu bak Mainan

Administrator • Kamis, 16 Januari 2020 | 22:51 WIB
Masyarakat Sayangkan Landmark Gajah Mungkur
Masyarakat Sayangkan Landmark Gajah Mungkur


GRESIK - Penutup landmark gajah mungkur sudah dibuka. Hanya saja setelah tahu bentuknya, warga Gresik malah heran.  Pasalnya, mereka menganggap patung gajah yang dibuat di perlimaan Petrokimia itu malah lucu dan sama sekali tak memenuhi estetika kota. Padahal, landmark itu dibangun dengan menelan biaya mencapai Rp 1 miliar.


Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, penutup kedua landmark tersebut sudah dibuka. Sehingga pengendara yang melintas di jalan tersebut bisa menikmati langsung pemandangan berbentuk Gajah Mungkur itu.


Hanya saja, banyak warga yang kecewa dan menyayangkan model bentuk dua gajah. Bentuknya tidak sesuai ekspektasi. Mereka mengangap bentuk gajah yang dibuat terlalu lucu. Bentuk tubuhnya tak diberi telinga, mata dan lainnya. “Seperti mainan anak-anak,” ungkap Solikin, salah satu pengendara yang tersenyum melihat bentuk gajah itu.


Warga Cerme itu, yakin jika nantinya gajah itu menjadi viral di medsos karena bentuknya. Bahkan bisa jadi menjadi “korban” bully netizen. Seharusnya, landmark harus dibuat serius dan seotentik mungkin sehingga merepresentasi wajah kota pudak.


“Seperti di Jalan Kebomas, landmark Lontar. Masak bentuknya seperti itu, tidak iconic. Seharusnya landmark itu menandakan kota Gresik. Sehingga saat menjadi objek foto, orang sudah tahu jika mereka di Gresik. Nah ini apa, hanya jadi pajangan saja,” terangnya.


Menanggapi hal itu, Asisten Perekonomian dan Pembangungan Setda Gresik Ida Lailatus Sa’diayah Ida Lailatus Sa’diayah mengatakan pembangunan dan bentuk patung gajah itu sengaja dikonsep seperti itu.  “Kami hanya replikasi. Kalau dibuat detail, kami khawatir ada yang protes. Dalam ajaran Islam tak boleh membuat patung yang mahkluk yang bernyawa. Sehingga sengaja dibuat seperti itu,” ungkapnya.


Meski demikian, bukan berarti landmark itu selesai.  Menurut Ida setelah pihaknya meninjau lokasi, ada kesalahan pada warna catnya. Sehingga pihaknya akan berkoordinasi dengan BUMN yang menghibahkan dana untuk pembangunan landmark itu. “Seharusnya warna merah ketua-tuan gitu. Konsepnya memang bangunan zaman Belanda. Bukan warna merah kayak klenteng,” pungkasnya. (yua/han)

Editor : Administrator