Surabaya - Harga ayam hidup terus merosot tajam dalam tiga minggu terakhir, bahkan kini jauh di bawah modal produksi ternak. Penurunan harga ayam ini menyebabkan kerugian besar bagi para peternak dan pengusaha di sektor perunggasan.
Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi, harga ayam hidup sekarang cuma Rp 11.500 sampai Rp 12.000 per kilo. Padahal, modal peternak bisa sampai Rp 17.500.
“Ini bukan sekadar penurunan margin, tapi murni rugi. Kalau HPP-nya Rp 17.500 dan dijual Rp 12.000, berarti rugi Rp 5.500 per kilo. Kalau berat ayamnya 2 kilogram, rugi Rp 11.000. Bayangkan kalau punya 10.000 kg, tinggal dikalikan saja. Ini pukulan yang luar biasa,” kata Sugeng, Minggu (20/4).
Dikatakan, pada Peraturan Bapanas Nomor 5 Tahun 2022, seharusnya harga ayam hidup di tingkat produsen berkisar antara Rp 21.000 dan Rp 23.000 per kilogram sebagai Harga Acuan Pembelian (HAP). Menurut Sugeng harga ayam turun karena stok di pasaran terlalu banyak.
“Memang dari awal sudah diprediksi akan terjadi oversupply. Setelah Lebaran, daya beli juga menurun sehingga permintaan melemah. Pasarnya tidak mampu menyerap produksi yang ada,” imbuhnya.
Wakil Sekjen Pinsar, Samhadi menyampaikan hal yang senada. Menurutnya, penurunan harga ayam saat ini disebabkan utamanya oleh pasokan yang melebihi permintaan dan sudah terjadi sejak lama.
“Potensi permintaan ayam hidup (livebird) sekitar 60 juta ekor per minggu, sementara produksi bibit ayam broiler mencapai 80–90 juta ekor. Jadi ada kelebihan pasokan sekitar 30 persen tiap pekannya,” ujar Samhadi.
Dia menambahkan, jika perdagangan ayam broiler di Indonesia didominasi 80 persen oleh penjualan ayam hidup, sedangkan hanya 20 persen yang dipotong di RPHU.
“Karena masih dalam bentuk komoditas mentah, maka pasar sangat rentan terhadap fluktuasi harga akibat kelebihan pasokan. Koreksi harganya bisa sangat dalam,” ungkapnya.
Dia juga mengatakan bahwa pelaku usaha unggas sudah bersiap produksi banyak sejak Agustus 2024 untuk program Makan Bergizi Gratis, sayangnya program ini tidak mengambil ayam sebanyak yang diharap.
“Ketika MBG mulai dijalankan Januari lalu, harapannya akan menyerap ayam dalam jumlah besar. Tapi realisasinya lambat. Banyak dapur MBG yang belum operasional, sehingga stok menumpuk dan menjadi beban,” jelasnya.
Samhadi mengusulkan agar pemerintah segera menerapkan langkah penting di tingkat produksi, seperti mengurangi 40 persen bibit ayam broiler.
"Kuncinya, kurangi pasokan," tandasnya. (sil/fir)
Editor : M Firman Syah