GRESIK-Guna mempercepat revitalisasi tambak rakyat. Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkenalkan tambak milenial. Tambak ini sangat cocok bagi kawula muda yang berkeinginan berprofesi sebagai petani tambak. Seperti yang dikelola di Desa Pangkah Kulon, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik.
Model tambak ini sudah dikembangkan di Jatim, Jateng, Lampung, dan NTB. Untuk menjadi petambak milenial tidak dibutuhkan lahan banyak. Kelebihannya, pengerjaan praktis, modal investasi terjangkau dan penggunaan energi lebih terjangkau.
Menteri Perikanan dan Kelautan Edhy Prabowo menuturkan, model tambak milenjal sangat cocok dikembangkan ditengah pandemi Covid-19.
"Sangat cocok bagi petambak yang saat ini menghadapi pandemi Covid-19. Harapannya, petambak tetap produktif meski ada pandemi," kata Edhy.
Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini budidaya udang masih dibutuhkan bagi negara lain. Untuk itu, adanya tambak milenial ini potensi udang bisa ditingkatkan lagi.
"Potensi pasar udang masih sangat besar 13 juta ton di pasar global. Indonesia berproduksinya baru sampai 800 ribu ton. Jadi ini peluang bagi petambak udang," tandasnya.
Sementara itu, pengelola tambak milenial, Oni Sugeng menuturkan bahwa selain tidak butuh lahan banyak, tambak yang dikelola ini bisa dibongkar pasang. "Tambak yang dikelola bisa dipindah ke tempat lain jika diinginkan," ujarnya.
Sedangkan kekurangannya lahan kurang dimanfaatkan karena ada sebagian lahan tidak terkelola.
Di Gresik, tambak milenial ini sudah dimulai sejak 2018 dengan memanfaatkan diameter 16 atau luas 200m2 sebanyak 3 kolam dilengkapi 2 tandon.
Hasil siklus perdana cukup sukses dengan tebar total 75 ribu ekor benur udang mendapatkan hasil panen 1,3 ton udang, atau produktivitas 21,7 ton per hektar. (fir/han)
Editor : Administrator