Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Wisata Kampung Arab, Wisata Religi Hingga Wisata Kuliner

Administrator • Rabu, 31 Januari 2018 | 17:20 WIB
Wisata Kampung Arab, Wisata Religi Hingga Wisata Kuliner
Wisata Kampung Arab, Wisata Religi Hingga Wisata Kuliner

Tahun 1820 merupakan tonggak sejarah meningkatnya pendatang Hadharim (Arab asal Yaman Selatan) ke Pulau Jawa, dimana kala itu para pendatang asing telah ditempatkan di distrik-distrik tertentu, dikenal dengan Wijkenstelsel yang telah diatur oleh pemerintah kolonial Belanda sesuai dengan strategi mereka agar para pendatang tidak bercampur dengan golongan bumiputera.


Meski sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1451 kelompok Hadharim, bersama dengan etnis Tionghoa  dan India ditempatkan di Kota Bawah (Benedenstad), namun baru mulai tahun 1870-an mengalami peningkatan pesat dengan wilayah timur laut menjadi pusat pemukimannya, yang hari ini dikenal sebagai kampung Arab Surabaya. 


Wilayah ini dibatasi Selat Madura di sebelah Utara, Sungai Pegirian di Timur, Kembang Jepun di Utara, dan Kalimas di sisi Barat. Di antaranya, terbentang Kompementstraat (perkemahan jalan) dari Utara ke Selatan.


Kampung Arab terbentuk dengan sendirinya sesaat setelah kemerdekaan Republik Indonesia, warga Arab yang ekonominya mulai tertata menempati bekas perumahan Tentara Angkatan Laut Belanda  di Jl. KH Mas Mansur. Mereka kemudian menetap dan berkembang hingga saat ini.  


Penduduk Arab modern datang ke Indonesia mulai abad ke-19. Sebelum berpindah di daerah KH. Mas Mansur mereka bermukim di daerah Ketapang, Surabaya. Ini disampaikan oleh Abdullah Al Batuti, Ketua Paguyuban Perkampungan Arab Surabaya. 


“Ketika ekonomi orang Arab yang tinggal di kampung mulai membaik, mereka mulai membeli rumah-rumah Belanda yang mulai ditinggalkan penghuninya. Dari sini perkampungan Arab membesar dengan segala budayanya. Jadi adanya kampung arab ini bukan karena pengelompokan orang Belanda, kami sudah bermukim di sini jauh sebelum Belanda mengelompokkan kami.” Kata Abdullah Al Batuti. 


 Saat ini lokasi yang dikenal dengan kampung arab berada di dua kecamatan yakni Pabean Cantikan dan Semampir. Batas wilayahnya meliputi bagian Selatan mulai dari Jalan  Danakarya yang sekarang lebih dikenal dengan Jalan  Sultan Iskandar Muda, bagian Timur berbatasan dengan Nyamplungan, bagian Barat dengan Kalimas sementara bagian Utara berbatasan dengan Kembang Jepun. Dengan luas wilayah sebesar satu kilometer persegi, sejarah dan peradaban baru masyarakat Arab berkembang  di kawasan Surabaya Utara tersebut.


Dalam Kampung Arab sendiri, asimilasi dan akulturasi sudah terjadi sejak lama hingga membentuk budaya baru. Hal ini disebabkan karena dalam kampung ini terdapat beberapa etnis yang membaur menjadi satu di antaranya Arab, Tionghoa, Banjar, Madura dan Jawa. Dalam menjalankan budayanya, gabungan dari budaya tiap-tiap etnis itu menyatu dan saling menyesuaikan akulturasi itu mencakup berbagai hal termasuk bahasa, yang saat ini disebut dengan bahasa Ampel, makanan, dan tradisi pernikahan yang mengikuti tradisi Arab. 


“misalnya dalam pernikahan, kami memakai budaya arab yang antara mempelai laki laki dan perempuan berada dalam ruangan yang terpisah. Hal itu juga dilakukan oleh orang Jawa yang tinggal di kampung ini.” Abdullah Al Batuti. 


Kampung Arab bisa digolongkan sebagai kampung mandiri. Hal ini karena roda perekonomian dan pelayanan masyarakat bisa berputar secara sendirinya di dalamnya. Abdullah Albatuti menguatkan pendapat tersebut dengan beberapa penjelasan. 


Di antaranya adalah dalam Kampung Arab terdiri dari tiga pasar yakni Pasar Peguruan, Pasar Pabean dan Pasar Kambing. Selain itu ada dua rumah sakit besar berdiri di Kampung Arab ini yakni RS Al-Irsyad dan RS Muhammadiyah. 


Bicara tentang Kampung Arab tentu tidak bisa lepas dari Wisata Religi Sunan Ampel. Selain masjid, yang menjadikan Kampung Arab Ampel ini ramai didatangi pengunjung adalah makam Sunan Ampel yang terletak di Kompleks Pemakaman Sunan Ampel. 


Selain itu juga terdapat makam istri dan lima kerabat Sunan Ampel yaitu mbah Sonhaji alias (Mbah Bolong) serta Mbah Soleh, mereka berdua bisa di sebut sebagai pembantu dari Sunan Ampel. Di komplek ini juga terdapat makam dari Pahlawan Nasional  KH. Mas Mansyur serta makam dari 182 Syuhada haji.


Di kawasan ini ada lima gapura yang mengelilingi masjid Sunan Ampel. Yaitu Gapuro Munggah, Gapuro Poso, Gapuro Ngamal, Gapuro Madhep, dan Gapuro Paneksen. Lima gapura ini melambangkan 5 rukun Islam.


Jika anda berkunjung ke Kawasan Kampung Arab Ampel, tentunya akan terasa tidak lengkap jika tidak berwisata belanja. Disini anda bisa membeli berbagai macam produk dan aksesoris yang berbau khas Timur Tengah. 


Tempat ini menjual berbagai macam baju muslim, baju koko, sarung, perlengkapan ibadah, siwak, dan produk lainnya. Berbagai jenis minyak wangi dapat ditemukan di tempat ini. Kurma dengan berbagai pilihan juga tersedia. 


Kawasan Wisata Religi ini lebih ramai pada saat malam hari daripada di siang hari. Kawasan wisata belanja ini terdpat di gang-gang sekitar masjid Sunan Ampel. Pedagangnya pun mayoritas juga keturunan Arab yang tinggal di kawasan tersebut.


Sambil berwisata belanja, anda juga bisa menikmati wisata kuliner yang ada di Kampung Arab Ampel ini. banyak sekali makanan khas Arab yang dijual disini oleh padagang di gang-gang sekitar masjid Sunan Ampel. Seperti roti Maryam, roti kebab, dan kuliner kue pukis Arab.


Jika anda ingin makanan khas Arab lainnya, anda bisa mengunjungi restoran maupun rumah makan yang ada di sekitar Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel. Menu makanan yang disediakan antara lain aneka olahan kambing dengan rempah khas Arab, nasi tomat, nasi biryani, nasi kebuli, dan gulai kacang hijau. Selain itu anda juga bisa mencicipi Shisa atau dikenal dengan rokok Arab.(is/rak)


Editor : Administrator