RADAR SURABAYA – Kanker anak yang masih menjadi penyakit berbahaya, menjadi dasar pemikiran Dosen Departemen Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Anggra Ayu Rucitra untuk menggagas model lingkungan penyembuhan melalui pendekatan multisensory healing model.
Hasil riset menyebutkan metode penyembuhan pasien kanker anak melalui stimulasi multisensori adaptif.
Penelitian ini menggunakan teori multisensory architecture sebagai landasan utama untuk menciptakan pengalaman tubuh yang utuh atau embodied experience.
Motivasi penelitian bermula dari pengalaman pribadi Anggra saat menyaksikan perjuangan putra sahabatnya melawan kanker, yang membuatnya menyadari pentingnya dukungan lingkungan fisik fasilitas kesehatan terhadap kondisi psikologis pasien.
“Ruang-ruang dalam fasilitas kesehatan bisa memengaruhi psikologis dan mendukung proses penyembuhan dalam ranah palliative care,” ungkapnya, Jumat (13/2).
Untuk memperdalam analisis, Anggra juga melakukan lab internship terkait riset disertasinya di Shibaura Institute of Technology, Tokyo, Jepang pada Februari 2023.
Dari sana, ia menyusun model integrasi antara faktor internal pasien dengan atribut lingkungan fisik, meliputi pencahayaan, warna, material, tekstur, suhu, hingga kualitas kenyamanan ruang yang membentuk persepsi dan emosi pengguna.
Secara praktis, penelitian ini memberikan alternatif pedoman perancangan ruang fasilitas kesehatan paliatif anak berbasis evidence-based design, yang diharapkan menjadi referensi bagi arsitek dan pengelola fasilitas kesehatan dalam menciptakan lingkungan yang suportif.
“Penelitian ini juga menghasilkan daftar faktor multisensori spesifik yang relevan untuk ruang kemoterapi anak di konteks Indonesia,” pungkasnya. (rmt)
Editor : Nofilawati Anisa