Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rp9,22 Triliun Dana Asing Keluar, Rupiah Jebol Hingga IHSG Terkapar

M Firman Syah
Penulis: M Firman Syah❯
IHSG bergerak volatile pada perdagangan Senin (08/06).
IHSG bergerak volatile pada perdagangan Senin (08/06).

Advertisement

 

RADAR SURABAYA – Pasar keuangan Indonesia sedang menghadapi ujian berat. Dalam waktu hampir bersamaan, nilai tukar rupiah menembus level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke kisaran 5.400 dan investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) hingga Rp9,22 triliun.

Data Bursa Efek Indonesia periode 2–5 Juni 2026 menunjukkan dana asing yang keluar dari pasar saham mencapai Rp9,22 triliun. Besarnya arus modal keluar tersebut menjadi salah satu faktor yang memperdalam koreksi IHSG dalam beberapa hari terakhir.

Advertisement

Fenomena ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik sedang menghadapi tekanan. Ketika investor asing mulai mengurangi eksposur di Indonesia, dampaknya tidak hanya terasa di pasar saham, tetapi juga pada nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi terhadap dolar AS.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten yang paling banyak dilepas investor asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp2,323 triliun. Posisi kedua ditempati PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp2,012 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp1,027 triliun.

Menariknya, ketiga saham tersebut merupakan emiten berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama IHSG. Ketika saham-saham unggulan mulai ditinggalkan investor asing, tekanan terhadap indeks menjadi sulit dihindari.

Advertisement

Selain itu, aksi jual juga terjadi pada saham PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp407,1 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp401,2 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp283,1 miliar, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp273,1 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp266,4 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp218 miliar, serta PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) Rp182,1 miliar.

Jika dicermati, aksi jual tidak hanya menyasar sektor perbankan, tetapi juga petrokimia, pertambangan, energi, telekomunikasi, hingga konglomerasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor asing sedang melakukan pengurangan risiko secara luas terhadap instrumen investasi di Indonesia.

Dari perspektif pasar, kombinasi pelemahan rupiah, keluarnya modal asing, dan penurunan IHSG merupakan tiga indikator yang kerap muncul bersamaan ketika persepsi risiko terhadap suatu negara meningkat. Situasi tersebut biasanya mencerminkan sikap wait and see investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas pasar keuangan.

Pemerintah, Bank Indonesia dan otoritas pasar keuangan dituntut mampu mengembalikan keyakinan pelaku pasar melalui kebijakan yang kredibel dan respons yang cepat.

Advertisement
Editor : Muhammad Firman Syah

Artikel Terkait

Hari Terakhir Perdagangan, IHSG Terjebak Konsolidasi

Hari Terakhir Perdagangan, IHSG Terjebak Konsolidasi

Hari Terakhir Perdagangan, IHSG Terjebak Konsolidasi: Pasar Menunggu Bukti, Bukan Janji Meski sempat menanjak hingga 6.135,12, penguatan tersebut gagal dipertahankan dan berakhir dalam pola konsolidasi yang mencerminkan

Rupiah Makin Terpuruk, Dolar AS Sentuh Rp18.132

Rupiah Makin Terpuruk, Dolar AS Sentuh Rp18.132

Kenaikan dolar AS hingga Rp18.132 per dolar menjadi pengingat bahwa tantangan ekonomi global masih belum mereda. Pemerintah dan Bank Indonesia kini menghadapi ujian besar untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempert

Terlemah Sepanjang Negara Berdiri, Kamis Pagi Kurs Rupiah Ambrol Rp 18.015

Terlemah Sepanjang Negara Berdiri, Kamis Pagi Kurs Rupiah Ambrol Rp 18.015

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Kamis (4/6). Rupiah dibuka di kisaran Rp18.006 per dolar AS, mempertegas tekanan yang masih membayangi pasar

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer