Surabaya – Harga bahan pangan di Jawa Timur kembali menunjukkan fluktuasi. Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) pada Senin (23/9), cabai keriting naik 3,45 persen hingga menembus Rp 30 ribu per kilogram.
Kenaikan dipicu berkurangnya pasokan dari sentra produksi. Para pedagang di pasar tradisional mulai merasakan dampaknya.
“Kalau cabai naik, pembeli biasanya tidak beli banyak. Dari yang biasanya satu kilo, sekarang hanya setengah kilo,” kata seorang pedagang di Pasar Wonokromo.
Selain cabai, harga beras masih menjadi sorotan. Beras jenis IR 64 bertahan di kisaran Rp 13,5 ribu per kilogram. Sementara itu, bawang merah turun tipis sekitar 1,2 persen menjadi Rp26 ribu per kilogram.
Kondisi ini membuat masyarakat harus berhemat. Seorang ibu rumah tangga asal Surabaya mengaku terpaksa mengurangi penggunaan cabai.
“Kalau cabai mahal, masakan jadi kurang pedas. Terpaksa kami hemat-hemat, biar pengeluaran bulanan tidak terlalu jebol,” ujarnya.
Fluktuasi harga turut memengaruhi pedagang yang mengeluh omzet menurun karena daya beli konsumen berkurang. Beberapa pedagang mencoba menyiasati dengan menjual cabai dalam kemasan lebih kecil agar tetap laku.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan pemantauan terus dilakukan. Jika harga semakin tidak terkendali, operasi pasar akan digelar dan distribusi pasokan dari daerah penghasil diperkuat.
Fenomena naik-turunnya harga pangan disebut bukan hal baru, namun stabilitas tetap krusial. Terlebih saat memasuki musim penghujan yang berpotensi memengaruhi hasil panen. Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar harga kebutuhan pokok kembali stabil, daya beli terjaga, pedagang tidak merugi, dan dapur rumah tangga tetap aman. (dwi/fir)
Editor : M Firman Syah