Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Surabaya Masuk Daftar Kota dengan Polusi Mikroplastik Tertinggi di Jatim, Gresik dan Sidoarjo Paling Parah Ancam Otak Manusia

Rahmat Sudrajat • Senin, 9 Juni 2025 | 23:31 WIB

 

PRIHATIN: Aktivis lingkungan dari Ecoton memprotes mikroplastik di udara Jatim. Meminta pemerintah tegas menghukum pembakaran sampah plastik.
PRIHATIN: Aktivis lingkungan dari Ecoton memprotes mikroplastik di udara Jatim. Meminta pemerintah tegas menghukum pembakaran sampah plastik.

RADAR SURABAYA - Bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang mengangkat tema "Ending Plastic Pollution", temuan mengejutkan mengungkap keberadaan mikroplastik dalam sel imun otak manusia.  

Temuan ini menunjukkan tubuh mengenali mikroplastik sebagai partikel asing dan akumulasinya meningkatkan risiko neuroinflamasi atau peradangan.

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap lambannya pemerintah dalam mengendalikan polusi mikroplastik di udara.

"Kondisi kontaminasi mikroplastik di udara saat ini menjadi salah satu sumber utama masuknya mikroplastik ke dalam tubuh manusia," ungkap Koordinator Pendidikan dan Kampanye Ecoton, Alaika Rahmatullah, Senin (9/6).

Alaika menyebut data yang dikumpulkan Ecoton menunjukkan tingginya konsentrasi mikroplastik di udara beberapa wilayah Jawa Timur seperti Gresik mencatat angka tertinggi dengan 141 partikel per 2 jam, diikuti Sidoarjo dengan 50 partikel per 2 jam, Jombang dengan 16 partikel per 2 jam, Surabaya dengan 13 partikel per 2 jam, dan Mojokerto dengan 12 partikel per 2 jam.  

"Penelitian di enam desa di Sidoarjo pada Mei 2025 juga menemukan 172 partikel mikroplastik di udara, dengan konsentrasi tertinggi di Kecamatan Wonoayu dengan 65 partikel per 3 jam. Penelitian serupa di Gresik pada Februari 2025 menemukan 141 partikel per 2 jam di Pasar Benjeng," ungkapnya.

Lebih lanjut, Alaika menjelaskan manusia menghirup mikroplastik sekitar 0,1-5 gram per minggu.

Temuan terbaru menunjukkan akumulasi mikroplastik di otak memicu gangguan neuroinflamasi atau peradangan otak dan autoimun.

"Jaringan otak mengandung proporsi polietilena yang lebih tinggi daripada hati atau ginjal yang dihirup masyarakat per minggu mencapai 0,1-gram mikroplastik," jelas Alaika.

Ia mengutip riset Bioaccumulation of Microplastics in Decedent Human Brains dari Meksiko tahun 2025, yang menunjukkan hal tersebut. Keberadaan polietilen di otak harus menjadi peringatan keras.

"Penduduk Indonesia diperkirakan mengonsumsi mikroplastik hingga 15 gram per bulan, menempatkan kita sebagai kelompok yang paling banyak mengonsumsi mikroplastik di dunia," tegas Alaika.  

Polietilen sendiri, umumnya berasal dari botol air minum kemasan. Sumber utama mikroplastik di udara menurut Ecoton, antara lain dari kebiasaan membakar sampah plastik sebesar 57 persen penduduk Jawa Timur.

Kemudian gesekan ban kendaraan dan alas kaki, sistem pembuangan sampah terbuka (open dumping dan open burning), industri daur ulang plastik, penggunaan produk rumah tangga dan personal care, serta pakaian/tekstil polyester.

"Oleh karena itu kami mendesak pemerintah untuk menegakkan hukum larangan pembakaran sampah plastik, menghindari pengolahan sampah dengan pembakaran, mengendalikan sumber mikroplastik di udara, dan menetapkan baku mutu mikroplastik di lingkungan dan makanan laut," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#neuroinflamasi #surabaya #sel imun otak manusia #mikroplastik #polusi mikroplastik #sampah plastik #kesehatan #sidoarjo #gresik