TADARUS merupakan kebiasaan membaca Alquran setelah salat tarawih. Dulu, setelah Wali Songo dan kiai-kiai kampung menyebarkan agama Islam, mereka juga membiasakan membaca Alquran setelah selesai salat.
Ketua Majelis Dzikir Rijalul Ansor Surabaya, Nurrohim mengatakan, sebenernya tadarus bukanlah asal mula melainkan salah satu bagian daripada hikmah bulan Ramadan.
Hikmah Ramadan karena orang-orang dulu itu baik setelah datangnya Wali Songo dan kiai-kiai kampung.
Diantara beberapa hikmah dan fadilah bulan Ramadan ini salah satunya adalah membaca Alquran.
Tetapi orang dulu membiasakan waktu yang tepat adalah setelah salat tarawih. Sehingga pembiasaan baca Alquran itulah menjadi sebuah tradisi tadarus.
“Jadi dulu Wali Songo dan kiai-kiai menyuruh anak-anak untuk membaca Alquran setelah salat tarawih. Sehingga pembiasaan membaca Alquran menjadi tradisi tadarus di bulan Ramadan,” kata Nurrohim.
Menurutnya, kebiasaan membaca Alquran itu sudah mulai dulu. Apalagi orang Jawa dulu nurut sama kiai, misalnya waktu selesai salat tarawih di suruh membaca Alquran.
Sehingga tanpa disadari sudah nurut untuk membaca Alquran. Tradisi tadarus hingga saat ini tetap dijalankan setelah salat tarawih.
“Jadi setelah nabi itu ada para sahabat dan Wali Songo yang menyebarkan agama Islam. Sehingga tadarus adalah membaca Alquran setelah salat tarawih,” ungkapnya.
Hingga saat ini tradisi tadarus tetap eksis dan menjadi kegiatan rutin. Bukan hanya saat bulan Ramadan saja, namun dalam kesehariannya masyarakat juga rutin melakukannya. (jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto