SURABAYA - Meletusnya peristiwa perobekan bendera pada 19 September di Hotel Yamato (eks Hotel Oranye) yang saat ini bernama Hotel Majapahit dikarenakan pengibaran bendera Belanda.
Aktor intelektual di balik berkibarnya bendera triwarna: merah, putih dan biru di hotel Yamato itu merupakan orang Belanda kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 25 Februari 1893, bernama Victor Willem Charles Ploegman.
Hotel Yamato yang terletak di Jalan Tunjungan Nomor 65 menjadi kantor Komite Kontak Sosial yang diprakarsai oleh Ploegman. Merasa kantornya ada di hotel itu, dengan percaya diri ia lantas mengibarkan bendera Belanda di menara sisi utara Hotel Yamato pada 18 September 1945 petang.
Menurut pegiat sejarah Nur Setiawan, Ploegman sebenarnya tahu bahwa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan sebulan sebelumnya yakni pada 17 Agustus 1945. Namun Ploegman yang berdarah keturunan Belanda bersikukuh mengibarkan bendera triwarna kebanggaan nenek moyangnya tersebut.
"Bendera Belanda ia kibarkan untuk memperingati ulang tahun Ratu Wilhemina, pemimpin kerajaan Belanda yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Hal itu yang membuat arek-arek Suroboyo marah dan merobek bendera Belanda itu," kata Nur.
Tak hanya bendera yang dirobek, namun amarah tak terbendung diperlihatkan arek-arek Suroboyo berujung pada pembunuhan Ploegman.
Tanggal 19 September 1945 itu juga merupakan hari kelam bagi Charles Ploegman. Sebab, ratusan massa yang menggepung Hotel Yamato meminta agar bendera Belanda yang masih berkibar di puncak hotel segera diturunkan.
Keadaan cukup menegangkan, menit demi menit bagai gulungan ombak karena massa yang berdatangan dari penjuru kota semakin tak terkendali. Apalagi posisi Hotel Yamato terletak di jalan protokol di tengah kota tempat warga berlalu lalang dari segala penjuru.
Sempat terjadi perundingan antara Residen Sudirman dengan Ploegman untuk penurunan bendera itu, namun berlangsung alot. Kemudian tanpa sengaja pecah kontak fisik dimana Sidik yang mendampingi Residen Sudirman gugur terkena letusan pistol. Sementara V.W.Ch. Ploegman terluka di bagian perut karena tertusuk pisau.
Kemudian keesokan hari tanggal 20 September 1945, V.W.Ch Ploegman mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit CBZ Simpang di Jalan Pemuda. Ia dimakamkan di pemakaman Kembang Kuning nomor B-26 Surabaya. "Ia wafat dalam usia 52 tahun," ujarnya.
Semasa kecil, Ploegman yang tinggal di Tegal hidup di lingkungan birokrat dengan kultur Eropa yang kental. Hal ini membuat Ploegman menjadi pemuda yang cerdas dan disiplin. Ploegman yang sempat menamatkan pendidikan di negeri Belanda dan meraih gelar sarjana hukum ini menikah dengan seorang wanita Belanda kelahiran Surabaya bernama Adelien J. Van Leewen. (rmt/nur)
Editor : Jay Wijayanto