
RADAR SURABAYA– Kekerasan berbasis digital, seperti pemerasan seksual (sextortion) dan hubungan tidak sehat (toxic relationship), menjadi persoalan yang banyak dihadapi mahasiswa.
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memperkuat kapasitas Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) untuk meningkatkan kemampuan investigasi, pemulihan psikologis korban, dan rehabilitasi terlapor.
Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Nasional Satgas PPK yang diselenggarakan Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) Unesa di Surabaya, Rabu (28/10).
Kegiatan ini diikuti 115 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, mulai Aceh hingga wilayah timur Indonesia.
Pelatihan mengusung tema Pendekatan Psikologi dalam Penanganan Kekerasan: Investigasi, Pemulihan Korban, dan Rehabilitasi Terlapor.
Fokus kegiatan diarahkan pada penguatan kompetensi psikologis anggota Satgas PPK dalam menangani kasus kekerasan secara tepat sekaligus mencegah pengulangan kasus.
Baca Juga: 1.100 Paket Umrah Terjual di BSI International Expo 2026, Anak Muda Makin Berminat
Direktur PPIS Unesa Prof. Dr. Mutimmatul Faidah mengatakan, pendekatan psikologi menjadi aspek penting dalam proses investigasi, pendampingan korban, hingga rehabilitasi terlapor.
Menurut dia, setiap perguruan tinggi memiliki dinamika dan karakteristik kasus yang berbeda.
Karena itu, anggota Satgas PPK perlu meningkatkan kapasitas melalui pelatihan dan pertukaran pengalaman agar mampu menangani kasus berdasarkan pendekatan ilmiah.
“Untuk tahun ini, kami mengangkat tema yang lebih spesifik terkait pendekatan psikologis dalam investigasi, pendampingan korban, dan pemulihan terlapor.



