Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sakral dan Sarat Filosofi, Tradisi Karia Suku Muna dari Pingitan Gelap hingga Tebas Pisang

Muhammad Firman Syah • Selasa, 3 Maret 2026 | 04:10 WIB

Sakral : Sejumlah remaja perempuan Suku Muna mengenakan busana adat lengkap saat mengikuti prosesi Tradisi Karia di Sulawesi Tenggara, sebagai simbol memasuki fase kedewasaan.
Sakral : Sejumlah remaja perempuan Suku Muna mengenakan busana adat lengkap saat mengikuti prosesi Tradisi Karia di Sulawesi Tenggara, sebagai simbol memasuki fase kedewasaan.

RADAR SURABAYA – Di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, adat bukan sekadar warisan, melainkan napas kehidupan. Di tengah arus modernisasi, masyarakat tetap menjaga tradisi leluhur. Salah satunya adalah Karia, ritual pingitan bagi remaja perempuan yang diwariskan turun-temurun sejak abad ke-7.

Karia bukan seremoni biasa. Dalam bahasa Muna, karia berarti “ramai” atau “berisik”. Namun di balik namanya, ritual ini justru dijalankan dalam suasana khidmat dan sarat makna. Tradisi tersebut menjadi penanda penting sebelum seorang anak perempuan memasuki fase kedewasaan.

Prosesi diawali dengan aturan yang tak bisa ditawar. Peserta tidak diperbolehkan menginjak tanah. Mereka harus digendong dua laki-laki—biasanya saudara kandung—menuju ruang pingitan yang disebut kagombo.

Baca Juga: Tradisi Khas Ramadan di Palestina, Kebersamaan Tetap Terjaga

Ruangan itu gelap gulita tanpa cahaya. Kondisi tersebut dimaknai sebagai simbol kembali ke rahim ibu, proses kelahiran kembali menuju kehidupan yang lebih dewasa. Di dalam kagombo, peserta dijaga perempuan tua yang disebut pomantoto. Selama masa pingitan umumnya tujuh hari, meski ada yang tiga hari mereka wajib mematuhi aturan ketat.

Posisi tidur diatur setiap dua jam. Menghadap kiri dimaknai sebagai membuang keburukan, sedangkan menghadap kanan menjadi simbol menerima kebaikan. Makan dan minum hanya diperbolehkan saat bunyi gong terdengar. Bahkan, selama masa pingitan, peserta tidak diperkenankan buang air besar karena diyakini dapat mendatangkan kesialan.

Menjelang akhir prosesi, peserta diminta memakan sirih. Rasa pahitnya menjadi perlambang bahwa kehidupan di luar tidak selalu manis. Selanjutnya, peserta dimandikan dengan mayang. Jika mayang berhamburan saat prosesi berlangsung, masyarakat meyakini jodohnya telah dekat.

Baca Juga: Menjalani Ramadan di Mesir, Tradisi Semarak dari Fanus hingga Meja Berbagi

Usai dimandikan, peserta dirias dan mengenakan busana adat Muna yang megah dengan ornamen emas. Mereka kemudian menarikan Tari Linda, yang kerap disebut sebagai tarian bidadari.

Prosesi keluarnya peserta dari kagombo disebut kafosampu. Mereka kembali digendong menuju lokasi acara, dilanjutkan dengan injak tanah dan menyalakan lilin. Lilin tersebut tidak boleh padam hingga tarian selesai sebagai simbol cahaya setelah melewati masa kegelapan.

Saat Tari Linda dipentaskan, para tamu biasanya melemparkan uang sebagai bentuk doa restu dan penghargaan.

Prosesi berikutnya adalah tebas pisang. Para pesilat, baik laki-laki maupun perempuan, beradu ketangkasan menggunakan parang mengikuti irama gong. Pohon pisang yang ditebas melambangkan terhapusnya dosa orang tua kepada anak serta sirnanya segala hal buruk.

Setelah ditebas, peserta Karia didudukkan di atas batang pisang sebagai simbol kebahagiaan orang tua karena sang anak telah melewati fase penyucian diri.

Baca Juga: Enam Warga Tewas Akibat Banjir Bandang di Sitaro, Sulawesi Utara, Puluhan Warga Mengungsi

Ritual ditutup dengan prosesi buang bansa. Orang tua bersama pomantoto membuat perahu kecil dari batang pinang bekas mandi peserta. Perahu diisi beras dan telur rebus, didoakan, lalu dilarungkan ke laut atau sungai. Arah dan kondisi perahu dipercaya menjadi pertanda masa depan sang anak, mulai dari jodoh, rezeki, hingga umur.

Karia bukan sekadar tradisi. Ia merupakan refleksi filosofi hidup masyarakat Suku Muna tentang kesucian, kedewasaan, dan tanggung jawab. Di tengah perubahan zaman, ritual ini tetap kokoh menjadi identitas budaya yang tak lekang oleh waktu. (ida/fir)

Editor : M Firman Syah
#warisan budaya #Pingitan #ritual adat #tradisi #sulawesi tenggara