Radar Surabaya — Memiliki rumah pribadi masih menjadi impian banyak orang. Namun, lonjakan harga properti membuat sebagian memilih opsi sewa. Pertanyaannya, mana yang lebih menguntungkan, menyewa atau membeli rumah?
Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho, menilai menyewa rumah lebih hemat dalam jangka pendek.
“Dengan modal lebih sedikit, kita bisa segera menempati hunian. Bahkan kadang sudah lengkap dengan furniture,” jelasnya.
Direktur Investment PT Global Asset Management, Steve Sudijanto, sependapat bahwa sewa memang terasa ringan di awal. Namun, ia mengingatkan pentingnya disiplin menabung.
“Kalau gaji Rp 20 juta, idealnya cicilan rumah 30 persen atau sekitar Rp 6-7 juta. Kalau mau sewa, cukup Rp 3 juta, sisanya ditabung untuk DP rumah,” sarannya.
Meski praktis, sewa rumah memiliki sejumlah kelemahan. Dana yang dikeluarkan tidak kembali, harga sewa bisa naik tiap tahun, dan kontrak berisiko merugikan jika dibatalkan mendadak.
Sebaliknya, membeli rumah memang menuntut pengeluaran besar di awal. Cicilan panjang, biaya perawatan, hingga kerumitan dokumen menjadi konsekuensi yang harus dihadapi. Namun, keuntungan jangka panjang tidak bisa diabaikan.
“Inflasi justru menguntungkan pemilik rumah. Harga rumah naik setiap tahun, dan ini bisa jadi investasi jangka panjang,” ujar Steve.
Andy menambahkan, rumah yang dibeli dapat dijual kembali saat membutuhkan dana.
“Walaupun cicilan panjang, rumah akan jadi milik kita. Itu yang membedakan dengan sewa,” tegasnya.
Pada akhirnya, baik sewa maupun beli rumah, keputusan sangat bergantung pada kondisi keuangan masing-masing individu. Yang terpenting, setiap langkah harus melalui perhitungan matang agar tidak salah strategi. (ali/fir)
Editor : M Firman Syah