Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kisah Bu Aminah, 19 Tahun dari Pikulan Bawa Semanggi Surabaya Naik Kelas ke Jalan Tunjungan

Dimas Mahendra • Senin, 8 Juni 2026 | 22:25 WIB
INSPIRATIF: Bu Aminah (tiga dari kanan) saat foto bersama Mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (empat dari kanan) di depan stan kuliner semanggi di Jalan Tunjungan, Surabaya. (IST/RADAR SURABAYA)
INSPIRATIF: Bu Aminah (tiga dari kanan) saat foto bersama Mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (empat dari kanan) di depan stan kuliner semanggi di Jalan Tunjungan, Surabaya. (IST/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA — Siapa sangka semanggi yang dahulu dijajakan dengan cara dipikul keliling kampung kini memiliki rumah sendiri di kawasan paling prestisius Kota Surabaya. Perjalanan panjang itu dialami Bu Aminah, pelaku UMKM asal Surabaya yang akhirnya berhasil membawa kuliner legendaris semanggi hadir permanen di Jalan Tunjungan setelah hampir dua dekade berjuang mengembangkan usahanya.

Stan kuliner Selendang Semanggi resmi dibuka di kawasan Tunjungan Romansa, Senin (8/6/2026). Kehadirannya menandai babak baru perjalanan semanggi, makanan khas Surabaya yang selama ini identik dengan penjual gendong dan mulai sulit ditemui di berbagai sudut kota.

Di balik peresmian tersebut tersimpan kisah perjuangan panjang seorang perempuan yang memulai usaha semanggi sejak tahun 2007. Dengan mata berkaca-kaca, Bu Aminah mengaku tak pernah membayangkan usahanya bisa berkembang hingga memiliki stan di salah satu kawasan paling ikonik di Kota Pahlawan.

Baca Juga: Buntut Kasus Eksploitasi Anak, DPRD Desak Audit dan Sidak Seluruh Tempat Spa di Surabaya

"Saya benar-benar seperti mimpi. Dulu hanya jual semanggi gendong, sekarang punya stan di Jalan Tunjungan. Saya sampai terharu kalau cerita ini," ujarnya.

Perjalanan usaha Bu Aminah tidak selalu mulus. Titik balik datang ketika ia bergabung dalam program Pahlawan Ekonomi yang digagas Pemerintah Kota Surabaya pada masa kepemimpinan Wali Kota Surabaya periode sebelumnya, Tri Rismaharini. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, usahanya mulai berkembang dari skala rumahan menjadi produk yang mampu menjangkau pasar lebih luas.

"Saya berkembang karena program Pahlawan Ekonomi. Dari situ saya belajar mengembangkan usaha dan memperluas pemasaran," katanya.

Baca Juga: Jaga Stabilitas Harga Telur, Wagub Jatim Pertemukan BGN dan Peternak

Kini, selain menyajikan semanggi segar, Selendang Semanggi juga menghadirkan inovasi berupa semanggi instan dalam bentuk kering yang mampu bertahan hingga dua bulan tanpa bahan pengawet. Produk tersebut disiapkan sebagai oleh-oleh khas Surabaya yang dapat dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, yang hadir dalam peresmian tersebut menilai keberhasilan Bu Aminah menjadi bukti bahwa UMKM lokal mampu berkembang apabila mendapat pendampingan yang tepat.

"Semanggi adalah bagian dari sejarah dan identitas Kota Surabaya. Ketika UMKM seperti Bu Aminah berkembang, maka yang ikut tumbuh bukan hanya usahanya, tetapi juga kebanggaan terhadap budaya daerah," ujarnya.

Baca Juga: Rincian Jadwal dan Penyebab Keterlambatan Kepulangan Jemaah Haji ke Surabaya, Maskapai: Karena Kepadatan Bandara Jeddah

Senada, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji mengatakan semanggi merupakan kuliner khas yang keberadaannya perlu terus dijaga dan dilestarikan. Menurutnya, kehadiran rumah makan semanggi di Jalan Tunjungan menjadi etalase baru bagi kuliner khas Surabaya di tengah perkembangan kota modern.

"Semanggi ini makanan khas Suroboyo yang harus dijaga dan dilestarikan. Kehadiran Rumah Makan Selendang Semanggi di Jalan Tunjungan sangat tepat karena menjadi etalase kuliner khas Surabaya di tengah kota," kata Armuji.

Sementara itu, Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri menyebut semanggi bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya warga Surabaya yang harus terus dikenalkan kepada generasi muda.

Baca Juga: Jaga Stabilitas Harga Telur, Wagub Jatim Pertemukan BGN dan Peternak

"Makanan ini sehat dan memiliki nilai sejarah. Karena itu UMKM seperti Bu Aminah harus terus didorong agar berkembang," katanya.

Kehadiran Selendang Semanggi di Tunjungan pun mendapat sambutan positif dari masyarakat. Bagi banyak warga, langkah Bu Aminah bukan hanya tentang membuka usaha baru, melainkan tentang membawa warisan kuliner lokal naik kelas tanpa kehilangan akar budayanya.

Dari sebuah pikulan sederhana yang berkeliling kampung, semanggi kini berdiri di jantung Kota Surabaya. Sebuah perjalanan panjang yang membuktikan bahwa makanan tradisional tak hanya mampu bertahan di tengah zaman, tetapi juga menemukan panggung baru untuk dikenal lebih luas. (dim/gun)

 

Editor : Guntur Irianto
#kuliner semanggi #depot semanggi #selendang semanggi #jalan tunjungan #UMKM Surabaya