Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Hindari Dampak Negatif Makan Gorengan Berlebihan Saat Berbuka

Muhammad Firman Syah • Selasa, 10 Maret 2026 | 10:39 WIB

Gorengan memang menggiurkan saat berbuka, namun konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan tubuh.
Gorengan memang menggiurkan saat berbuka, namun konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan tubuh.

RADAR SURABAYA – Gorengan menjadi salah satu menu takjil yang paling populer saat berbuka puasa di Indonesia. Rasanya yang gurih dan teksturnya yang renyah membuat makanan ini sulit ditolak. Namun, para ahli kesehatan mengingatkan agar konsumsi gorengan tidak berlebihan karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Dietisien dari RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, menjelaskan bahwa setelah berpuasa seharian, kondisi organ tubuh sebenarnya cukup sensitif. Jika langsung mengonsumsi makanan tinggi lemak seperti gorengan, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mencernanya.

Menurut Yesi, kebiasaan makan gorengan secara berlebihan saat berbuka maupun sahur dapat memberikan tekanan tambahan pada organ tubuh.

“Makan terlalu banyak gorengan pada saat berbuka atau sahur dapat memberatkan kerja organ tubuh,” ujarnya.

Baca Juga: Buah Sukun Nusantara, Dari Gorengan Kampung hingga Disebut Penyelamat Dunia di Eropa

Salah satu organ yang pertama terdampak adalah hati. Lemak berlebih dari gorengan akan disimpan di organ tersebut. Jika penumpukan lemak terus terjadi, kondisi ini dapat berkembang menjadi perlemakan hati. Dalam jangka panjang, perlemakan hati bahkan berpotensi memicu peradangan, sirosis, hingga kanker hati.

Selain hati, sistem kardiovaskular juga berisiko terdampak. Konsumsi gorengan berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Penumpukan kolesterol pada pembuluh darah dapat memicu penyumbatan atau aterosklerosis yang meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

“Hal ini dapat meningkatkan kolesterol dalam darah sehingga berisiko menyebabkan aterosklerosis dan penyakit jantung koroner,” jelas Yesi.

Baca Juga: Jangan Anggap Remeh! Inilah Alasan Mengapa Gorengan Bisa Menyebabkan Kanker

Tidak hanya itu, organ pankreas dan empedu juga dapat terganggu akibat tingginya asupan lemak. Kondisi tersebut dapat memicu resistensi insulin yang berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes. Sementara itu, ginjal juga dipaksa bekerja lebih keras untuk memproses metabolisme lemak berlebih, sehingga dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis.

Dampak lain yang mungkin muncul adalah gangguan pada sistem pernapasan. Penumpukan lemak di area perut dapat menekan diafragma sehingga seseorang lebih mudah mengalami sesak napas. Selain itu, ketidakseimbangan hormon akibat kelebihan lemak juga dapat memengaruhi sistem reproduksi dan menurunkan kesuburan.

Baca Juga: Pisang Goreng Dinobatkan sebagai Gorengan Terenak di Dunia

Dari sisi pencernaan, makan gorengan saat berbuka juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Setelah sekitar 12 jam berpuasa, sistem pencernaan berada dalam kondisi istirahat. Ketika langsung menerima makanan tinggi lemak, saluran cerna harus bekerja lebih keras sehingga memicu keluhan seperti perut terasa berat atau tidak nyaman.

Meski demikian, para ahli tidak sepenuhnya melarang konsumsi gorengan selama bulan Ramadan. Gorengan masih boleh dikonsumsi, tetapi sebaiknya dalam jumlah terbatas dan tidak dijadikan menu utama saat berbuka puasa.

Sebagai langkah yang lebih sehat, berbuka dapat diawali dengan air putih, kurma, atau buah-buahan yang lebih mudah dicerna tubuh sebelum mengonsumsi makanan lainnya. (sry/fir)

 

Editor : M Firman Syah
#gorengan #Kolestrol #penumpukan lemak #ramadan #bahaya gorengan