RADAR SURABAYA - Cita rasa khas Indonesia Timur kian mudah dijumpai di Surabaya. Salah satunya melalui kehadiran Dapur Fizzul, rumah makan khas Maluku yang menyajikan menu autentik dari Tanah Raja-Raja.
Dari beragam hidangan yang ditawarkan, papeda dengan ikan kakap kuah kuning menjadi menu paling laris dan diburu pelanggan.
Papeda merupakan makanan berbahan dasar tepung sagu dengan tekstur lembek dan kenyal.
Di Dapur Fizzul, papeda disajikan bersama ikan kakap segar yang dimasak dengan kuah kuning khas Maluku, kaya rempah dan aroma.
Cara menikmatinya pun unik, yakni dengan menggulung papeda menggunakan gata-gata, sejenis sumpit dari bambu, lalu menyiramnya dengan kuah kuning panas.
Pemilik Dapur Fizzul, Izzul Latuconsina, mengatakan pengunjung rumah makannya tidak hanya berasal dari warga Maluku yang rindu masakan kampung halaman.
Banyak pula warga lokal Surabaya yang penasaran ingin mencicipi kuliner khas Maluku.
Bahkan, sejumlah pesepak bola nasional asal Indonesia Timur kerap datang saat berada di Jawa Timur.
“Beberapa pemain sepak bola seperti Diego Michel, Manahati Lestusen, Alfin Tuasalamony, Rahmat Irianto, dan lainnya sering mampir, terutama ketika mereka bertanding atau menginap di Surabaya,” ujar Izzul, Minggu (28/12).
Izzul sendiri merupakan pria kelahiran Ambon yang besar di Jombang dan menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi di Surabaya.
Kecintaannya pada dunia kuliner sudah tumbuh sejak masa kuliah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kuah kuning khas Maluku.
“Awalnya saya terpikir membuat bumbu instan kuah kuning dalam botol. Saya diskusikan dengan ibu, lalu kami produksi dan jual secara daring,” tuturnya.
Melalui penjualan online, bumbu kuah kuning racikannya bahkan menembus pasar luar negeri seperti Inggris dan Malaysia.
Setelah berjalan sekitar tiga bulan, Izzul membuka rumah makan pertamanya di Jakarta pada 2023, memanfaatkan dukungan keluarga yang berada di ibu kota.
Tagline “Rumah Makan Khas Maluku Nomor 1 di Dunia” yang diusungnya pun sempat viral.
Menurut Izzul, keunggulan Dapur Fizzul terletak pada konsep pengolahan bumbu yang konsisten.
Bumbu kuah kuning dibuat per porsi untuk dua hingga tiga orang, lengkap dengan biji kenari, sehingga rasa tetap terjaga.
Bumbu tersebut tidak hanya cocok untuk ikan, tetapi juga bisa digunakan untuk ayam.
“Bahan baku kami datangkan langsung dari Maluku. Ikan segar berasal dari perairan Banda Neira, sementara sagunya dari Maluku Tengah. Semua demi menjaga kualitas rasa,” katanya.
Di cabang Surabaya yang dibuka pada akhir 2023, Dapur Fizzul mampu menghabiskan sekitar 500 porsi papeda kuah kuning ikan kakap setiap hari.
Rumah makan ini beroperasi mulai pukul 07.00 hingga 20.00 WIB.
Izzul berharap, melalui Dapur Fizzul, masakan khas Maluku tidak hanya dikenal di Surabaya atau Indonesia, tetapi juga bisa mendunia dan menjadi kebanggaan kuliner Nusantara. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa