Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Menguak Keindahan dan Kelangkaan Anggrek Hitam, Flora Ikonik Kalimantan Timur

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 23:21 WIB
Anggrek hitam Kalimantan (Coelogyne pandurata) dengan kelopak hijau muda dan bibir bunga berwarna hitam khas.
Anggrek hitam Kalimantan (Coelogyne pandurata) dengan kelopak hijau muda dan bibir bunga berwarna hitam khas.

Radar Surabaya – Di hutan tropis Kalimantan yang lembap dan teduh, tumbuh salah satu bunga paling eksotis di dunia, Coelogyne pandurata, atau lebih dikenal sebagai anggrek hitam Kalimantan. Meskipun disebut “hitam”, bunga ini memancarkan kombinasi warna hijau terang pada kelopak dan hitam pekat di labellum (lidah bunga), menciptakan kontras yang tampak seperti permata tersembunyi di rimbunnya dedaunan Borneo.

Selain pesonanya, anggrek hitam menjadi simbol kelangkaan flora dan rapuhnya ekosistem hutan tropis Indonesia. Flora ini kini menjadi maskot Kalimantan Timur dan dilindungi baik secara nasional maupun internasional.

Anggrek hitam pertama kali dideskripsikan oleh ahli botani Inggris, Prof. John Lindley, melalui spesimen dari Kalimantan. Dinamai Coelogyne pandurata Lindl. tanaman ini termasuk keluarga Orchidaceae, genus Coelogyne yang banyak dijumpai di Asia Tenggara.

Spesies ini endemik Pulau Kalimantan, meski varian serupa terdapat di Semenanjung Malaya dan Sumatra. Morfologi anggrek hitam Kalimantan berbeda dari anggrek hitam Papua (Coelogyne asperata) baik dari warna maupun habitat.

Anggrek hitam termasuk epifit, tumbuh menempel pada batang pohon tanpa merugikan inangnya. Batangnya sepanjang 10–15 cm, berbentuk bundar hingga pipih, dengan daun jorong sepanjang 7 cm dan lebar 2–3 cm.

Labellum berwarna hitam legam dengan garis hijau berbulu, sementara kelopak dan mahkota berwarna hijau muda hingga zaitun. Mekarnya berlangsung antara Maret hingga Juni, bertahan lima hingga enam hari, disertai aroma lembut yang khas.

Anggrek hitam tumbuh di hutan primer dan sekunder lembap di Kalimantan Timur, Tengah, dan sebagian Barat, khususnya di kawasan rawa gambut dan daerah sejuk dengan kelembapan tinggi.

Cagar Alam Kersik Luway di Kutai Barat menjadi salah satu lokasi terakhir yang masih menampung populasi alami. Namun, luas habitat yang semula 5.000 hektare menyusut drastis menjadi sekitar 500 hektare akibat kebakaran hutan, perambahan lahan, dan konversi area konservasi menjadi pertanian dan perkebunan.

Sebagai epifit, anggrek hitam berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis, membantu siklus penyerbukan dan menjadi habitat mikroorganisme tertentu. Penelitian menunjukkan kandungan senyawa aktif seperti alkaloid, saponin dan flavonoid yang berpotensi sebagai obat tradisional untuk batuk, sakit tenggorokan, dan diare. Kandungan antioksidan di dalamnya juga menjadikannya bahan potensial dalam produk kosmetik modern.

Anggrek hitam termasuk spesies langka yang dilindungi Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999 dan tercatat dalam CITES Appendix I & II. Populasinya terancam oleh deforestasi, kebakaran hutan dan perburuan liar untuk perdagangan internasional. Upaya konservasi dilakukan melalui kultur jaringan (in vitro propagation) oleh BKSDA dan lembaga penelitian, kemudian bibit hasil kultur ditanam kembali di kawasan konservasi.

Bagi masyarakat Dayak, anggrek hitam dianggap simbol roh hutan dan kesucian alam. Ada kepercayaan bahwa siapa pun yang merusak atau mencurinya akan tertimpa kesialan, dan hukum adat berlaku tegas terhadap pelanggar. Hubungan spiritual ini membantu pelestarian spesies dan mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keanekaragaman hayati.

Meskipun dilindungi hukum dan adat, ancaman terhadap anggrek hitam terus meningkat akibat perubahan iklim, kebakaran hutan dan kesulitan reproduksi alami yang bergantung pada serangga penyerbuk tertentu. Eksploitasi berlebihan untuk koleksi juga mempercepat risiko kepunahan.

Anggrek hitam Kalimantan bukan sekadar bunga eksotis, tetapi simbol keseimbangan alam dan tanggung jawab manusia terhadap hutan tropis. Kehilangannya berarti berkurangnya sebagian cerita tentang harmoni dan kebijaksanaan alam Nusantara. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#anggrek hitam #Bunga anggrek #hutan tropis #kalimantan timur #langka