Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kuliner Ronde dan Angsle Legendaris di Surabaya, Cocok untuk Cuaca Dingin di Malam Hari

Andy Satria • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 23:34 WIB

 

LEGENDARIS: Nike Yulianda, pengelola kedai Ronde dan Angsle Pak Yanto Jalan Dharmahusada, menunjukkan menu best sellernya, Jumat (8/8).
LEGENDARIS: Nike Yulianda, pengelola kedai Ronde dan Angsle Pak Yanto Jalan Dharmahusada, menunjukkan menu best sellernya, Jumat (8/8).

RADAR SURABAYA - Cuaca malam di Surabaya yang dingin akhir-akhir ini, membawa berkah tersendiri bagi para penjual minuman tradisional hangat seperti ronde dan angsle.

Salah satu yang tengah ramai diserbu pembeli adalah kedai milik Pak Yanto di kawasan Jalan Dharmahusada, Surabaya.

Kedai sederhana ini menyajikan sajian hangat khas yang sudah melegenda.

Tak hanya karena rasanya yang nikmat, namun juga karena kisah perjalanan usahanya yang penuh ketekunan.

Kedai ronde dan angsle Semarang ini, sudah ada sejak tahun 1975.

Kini, resep tersebut telah memasuki generasi ketiga, yang di kelola Pak Yanto.

“Kalau di Surabaya kita mulai buka sekitar tahun 2005-an. Awalnya cuma terima pesanan, terutama pas perayaan hari besar umat Tionghoa,” ujar Nike Yulianda, istri Pak Yanto, saat ditemui Radar Surabaya, Jumat (8/8).

Nike menceritakan, sebelum menetap di Jalan Dharmahusada, kedai ini sempat buka di Jalan Kapasan selama dua dekade.

Setelah itu buka cabang di Jalan Manyar, namun karena statusnya PKL (pedagang kaki lima) dengan tingginya jumlah pembeli, keberadaannya dinilai mengganggu lalu lintas.

“Akhirnya kami dipindahkan dan diberi tempat oleh Bu Rudy di lahan parkir depot lama miliknya. Karena masih ada hubungan saudara juga,” sambung Nike.

Tak disangka, sejak pindah ke tempat yang sekarang, usaha keluarga ini justru makin ramai dan viral di media sosial.

Dalam sehari, terutama di malam akhir pekan, kedai ini bisa penuh hingga 10 meja. Jam ramai pengunjung biasanya mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB.

“Kalau sedang ramai bisa habis 7 kilogram tepung dan 10 kilogram jahe. Semua tetap kami olah pakai resep tradisional,” imbuhnya.

Untuk menu andalan, wedang ronde campur jadi pilihan favorit.

Isiannya lengkap ada ronde kecil, ronde besar isi kacang, mutiara, kacang tanah, kelapa muda, dan kuah jahe yang hangat aromatik.

Bagi yang tidak suka jahe, bisa memilih angsle dengan kuah santan.

Ada pula menu lain seperti tahuwa, kacang kuah, serabi, hingga wedang kacang hijau. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp 11 ribu hingga Rp 21 ribu.

Ronde Pak Yanto ini memiliki tekstur yang kenyal dengan isian kacang manis lembut, berpadu sempurna dengan balutan tepung warna merah muda dan kuah jahe yang menghangatkan.

Dalam kesempatan tersebut, Bu Rudy, pemilik lahan dan pengusaha kuliner legendaris Surabaya, juga sempat mencicipi semangkuk ronde.

“Saya senang lihat banyak anak muda mau buka usaha. Apalagi melestarikan makanan tradisional. Intinya dalam usaha itu rasa harus stabil. Jangan naik turun. Harus konsisten demi kepuasan pelanggan,” pesan Bu Rudy.

Menurutnya, menjaga rasa dan pelayanan jadi kunci keberhasilan.

“Semuanya saya ajari, bahkan sampai cara melayani pelanggan,” tutupnya dengan senyum hangat. (sam/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Bu Rudy #Pak Yanto #surabaya #pedagang kaki lima #cuaca dingin #angsle #dharmahusada #ronde