RADAR SURABAYA - Banyaknya makanan luar negeri dan jajanan kekinian yang masuk ke Indonesia dan menjadi idola generasi muda, siapa sangka makanan tradisional seperti lemper justru makin diminati.
Salah satunya Lemper 168, yang kini tengah naik daun dan menjadi oleh-oleh favorit warga Surabaya maupun wisatawan dari luar kota.
Makanan tradisional ini dikelola oleh Rusmin Effendi, yang merupakan generasi kedua atau anak dari sang perintis.
Lemper 168 berawal dari resep turun-temurun yang diwariskan sang ayah sejak tahun 2000, seorang mantan koki di rumah makan legendaris di Surabaya.
“Awalnya ini usaha papa setelah pensiun di tahun 2000. Dulu beliau koki, dan lemper ini salah satu resep andalan yang akhirnya saya teruskan,” ujar Rusmin saat ditemui di resto yang juga menjadi pusat produksi Lemper 168, Rabu (25/6).
Lemper 168 hanya menyediakan satu varian rasa, yakni lemper isi ayam. Meski terdengar sederhana, justru di situlah letak keistimewaannya.
“Tidak ada yang terlalu berbeda, mungkin hanya masalah selera. Banyak pelanggan yang bilang cocok dengan rasa lemper buatan papa,” tambahnya.
Dari pantauan Radar Surabaya, banyak para pembeli yang terpaksa kembali tidak membawa barang yang dicarinya.
Karena lemper sudah habis dibeli, bahkan ada yang rela menunggu untuk dimasakkan selagi stok bahan masih ada.
Untuk menjaga keaslian rasa dan aroma, lemper ini tetap dibungkus daun pisang di bagian dalam. Sedangkan bagian luar memakai plastik untuk menjaga kebersihan dan kemasan yang lebih modern.
Nama “168” yang diambil memiliki makna tersendiri. Dalam istilah Tiongkok, angka ini dimaknai sebagai "Satu Jalan Menuju Kesuksesan".
Dan makna itu tampaknya bukan sekadar harapan, penjualan Lemper 168 terus menunjukkan tren naik.
Ketika pandemi Covid-19, Rusmin mulai membuat inovasi dengan memproduksi lemper versi frozen. Tujuannya, agar lemper bisa dikirim ke luar kota, maupun dalam kota.
“Saat itu orang tidak bisa ke mana-mana. Dari situ saya terpikir untuk buat lemper beku. Jadi bisa dikirim lewat ekspedisi yang memiliki layanan satu hari sampai, dan sekarang masih terus jalan,” jelasnya.
Dalam kondisi beku, lemper bisa bertahan hingga satu bulan. Cukup dikukus sebelum disajikan. Produk ini sudah dikirim ke berbagai kota di Indonesia, bahkan pernah dibawa pelanggan hingga ke Belanda sebagai oleh-oleh.
Harga satu lemper dibanderol Rp13.000. Paket terkecil berisi lima lemper, dan tersedia juga paket besar hingga 50 biji.
Dalam sehari, Lemper 168 bisa menjual ratusan biji, terutama saat musim libur seperti Lebaran, Natal, Imlek, hingga libur sekolah.
Rusmin Effendi juga memanfaatkan platform digital dalam penjualannya, dan lebih banyak pelanggan yang memanfaatkan daripada datang langsung.
“Sekitar 70 persen lewat marketplace, sisanya baru dine in. Jadi pemasaran online sangat membantu,” ujar Rusmin.
Lemper 168 ini juga memiliki cabang di Jakarta yang dikelola sang kakak. Dan resto utama Lemper 168 di Surabaya belum pernah pindah sejak awal berdiri. Dengan enam karyawan, usaha ini masih dijalankan dalam lingkup keluarga.
“Tujuan saya satu, ingin menjaga resep dari papa tetap hidup. Selama masih diminati, saya akan terus lanjutkan,” pungkas Rusmin. (sam/vga)
Editor : Vega Dwi Arista