MAGELANG - Dulu desa tertinggal dan termiskin, kini Desa Karangrejo, Borobudur Magelang, Jawa Tengah, dikenal sebagai desa wisata jujukan para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Hal tersebut berkat sinergi yang baik antara PT Pertamina Gas Negara (PGN) dengan masyarakat Desa Karangrejo untuk mengembangkan destinasi wisata berbasis energi ramah lingkungan di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) PGN Karangrejo, Magelang, yang dikelola oleh masyarakat bersama Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
Kepala Desa Karangrejo Muhamad Hely Rofikun mengatakan, kehadiran Balkondes PGN Karangrejo, Magelang, menjadi hal yang sangat penting dalam pengembangan ekonomi warga Desa Karangrejo, Magelang.
"Hasil pendapatan dari pengelolaan Balkondes di tahun 2022 mampu mengumpulkan omzet sebesar Rp 1,8 miliar, " ujarnya, Minggu (15/10).
Ditambahkan Heli Rofikun, pendapatan Balkondes binaan dari PGN tersebut dari pengelolaan berupa homestay, resto hingga cafe yang dibangun menggunakan dana corporate social responsibility (CSR) dari berbagai BUMN.
"Di sini kami tidak hanya mengelola homestay, tetapi ada wisata Puthuk Setumbu, Gereja Ayam, Kebun Buah Karangrejo dan Balkondes ini,” jelasnya.
Heli Rofikun juga menyampaikan dampak positif dari Balkondes PGN Karangrejo adalah penciptaan lapangan kerja baru yang langsung berhubungan dengan Balkondes maupun UMKM yang juga mendapat berkah dari kehadiran Balkondes.
“Semua warga terlibat dalam pengembangan Balkondes. Ada yang bekerja di Balkondes maupun menjual produk kerajinan UMKM dan hasil usaha pertaniannya,” ucapnya.
Sementara itu, Widodo, Direktur Balkondes PGN Karangrejo mengungkapkan bahwa wisawatan yang berkunjung di desa Karangrejo sekitar 500 hingga 1000 orang. Dari kunjungan wisatawan itu, yang paling banyak mengunjungi destinasi di Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, serta berkeliling desa menggunakan kendaraan VW Safari.
“Untuk pendapatan di tahun 2022 itu, sudah mencapai Rp1,8 miliar. Jadi, satu tahun pasca pandemi, dalam sebulan belum bisa berinovasi. Namun pasca pandemi, kita sudah bisa untuk pengembangan-pengembangan lainnya,” ungkapnya.
Pengembangan yang dilakukan yakni menjalin komunikasi dengan para wisatawan yang pernah berkunjung ke desa Karangrejo. Berikutnya, menyimpan nomor handphone (HP) para tamu, lalu menyiarkan pesan-pesan berisikan promosi wisata.
Pihaknya memulai usaha di desanya sejak 2009. Kemudian tepatnya pada tahun 2017 lalu, PT PGN Tbk memprakarsai berdirinya Balkondes yang berdiri di atas tanah bengkok alias tanah kas desa.
Menurut Widodo, pendirian Bumdes bertujuan untuk mengembangkan potensi ekonomi desa. Sebab, masyarakat desa Karangrejo lebih memilih peningkatan benefit atau kepuasan untuk wisatawan dibanding meningkatkan keuntungan saja.
“Di sini yang dikejar bukan profitnya tetapi benefitnya. Sehebat apapun omzet atau pendapatan, tapi kalau benefit buat masyarakat tidak ada, maka itu tidak ada artinya,” tuturnya.
Di sisi lain, Siti Zulaikah, 42, warga Desa Karangrejo salah satu penjual suvenir mengatakan, dirinya merasa terbantu dengan kehadiran Balkondes PGN. Sebelum ada Balkondes, ia berjualan suvenir dan baju di kawasan wisata Candi Borobudur. Tapi sekarang, dia bisa berjualan di dekat rumah.
"Sekarang jualan tidak usah jauh-jauh dari rumah dan tempat berjualan juga disediakan gratis oleh pihak Bumdes," ucap Siti Zulaikah.
Ia mengatakan, dirinya berjualan suvenir dan baju di area Balkondes setiap hari. Biasanya ia memperoleh keuntungan Rp100 ribu dan pada hari libur bisa untung Rp 500 ribu saat ramai pengunjung dan ada event acara.
"Alhamdulillah bisa untuk membantu perekonomian keluarga dan membayar sekolah anak-anak, " pungkasnya. (yud/jay)
Editor : Jay Wijayanto