RADAR SURABAYA - Kota Surabaya merupakan kota metropolis yang berkembang pesat. Selain mendapat julukan Kota Pahlawan karena sejarahnya, kota ini juga mendapat julukan Kota Perdagangan dan Jasa karena aktivitas ekonominya.
Penyokong utama perekonomian Surabaya memang dari sektor perdagangan dan jasa. Namun, bukan hanya dari perdagangan da jasa kelas besar saja, ekonomi kerakyatan di Surabaya yang berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga memiliki peran besar.
Oleh sebab itu muncul basis-basis UMKM di kampung-kampung Surabaya yang kemudian menjadikannya kampung mandiri dan unik.
Inilah beberapa kampung-kampung unik di Surabaya yang berperan dalam menopang perekonomian warganya:
1. Kampung Lontong
Kampung Lontong berada di Banyuurip Lor X dan XI, Kelurahan Kupang Krajan, Sawahan, Surabaya. Di kawasan tersebut puluhan warga tiap hari sibuk membuat lontong di rumahnya.
Tumpukan daun pisang dan karung beras, tampak memenuhi teras rumah. Aktivitas pembuatan lontong di Kampung Banyuurip Lor pertama kali dilakukan sekitar tahun 1980-an.
Awalnya, warga setempat banyak yang membuat usaha tempe. Namun salah satu warga di sana berinisiatif membuat usaha lain karena persaingan dengan jenis usaha serupa.
Setelah berjalannya waktu, usaha lontong warga di sana diterima di pasaran dan terus berkembang pesat, sehingga membuat warga lainnya turut membuat usaha lontong.
Belasan ribu lontong diproduksi di kampung ini setiap harinya. Pembuat lontong menjualnya dengan harga Rp 2.500 hingga Rp 3.500 per buahnya.
Selain dijual di pasar Kota Pahlawan, lontong hasil usaha warga Banyuurip Lor juga dipasarkan hingga ke Sidoarjo dan Gresik.
2. Kampung Kue
Kampung Kue terletak di Jalan Rungkut Lor II, Kelurahan Kalirungkut, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya.
Di kampung ini, aktivitas denyut ekonomi sudah terasa sejak pukul 02.00 dini hari. Puluhan warga sudah memasak dan menata kue tradisional di lapak jualannya.
Berbagai macam jenis kue tradisional seperti lemper, bikang, putu ayu, risoles, dadar gulung, onde-onde, pastel, bolu, dan jajanan pasar lainnya diproduksi di kampung ini.
Lalu lalang motor pedagang keliling yang membawa keranjang berisi kue bergantian datang. Mereka kulakan kue basah dari Kampung Kue untuk kembali dijual di beberapa pasar maupun kampung Surabaya lainnya.
Kampung Kue dibentuk sekitar tahun 2001. Berawalnya dari banyaknya warga Rungkut Lor II yang menjadi korban PHK oleh perusahaan dan belum memiliki pekerjaan.
Salah satu warga akhirnya berinisiatif untuk membuat kue untuk dijual demi meningkatkan ekonomi. Karena lokasi kampung yang berada di kawasan padat penduduk, menjadi celah potensi pasar.
Akhirnya banyak warga yang juga membuka usaha pembuatan kue, hingga akhirnya kini ada puluhan, bahkan ratusan warga yang menggantungkan hidupnya dari berjualan kue. Bahkan kini Kampung Kue menjadi destinasi wisata kuliner di Surabaya.
3. Kampung Lumpia
Kampung Lumpia terletak di Jalan Ngaglik Gang Kuburan, Kapasari, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya. Disebut demikian karena hampir seluruh masyarakat di gang ini berpenghasilan dari produksi lumpia.
Usaha pembuatan lumpia di kampung ini dirintis sejak tahun 2000. Dalam satu hari bisa memproduksi 10 ribu hingga 15 ribu biji lumpia. Jumlah tersebut bisa meningkat saat weekend dan ketika Persebaya bertanding.
Kampung Lumpia tak hanya menjadi gantungan hidup pembuat dan pekerja pembuat lumpia, namun juga para penjual lumpia. Ada puluhan orang yang bekerja dalam pembuatan dan penjualan lumpia.
Lumpia produksi kampung ini banyak yang mengenal dengan Lumpia Surabaya atau Lumpia Bonek. Karena selain asli produksi Surabaya, lumpia ini pasti ada saat Persebaya bertanding.
Namun, lumpia di kampung ini tak hanya dipasarkan di dalam kota saja, ada pedagang dan pembeli asal Gresik, Lamongan hingga Solo yang membeli dari kampung ini. Selain itu, lumpia produksi kampung ini juga menyuplai beberapa hotel di Surabaya.
4. Kampung Tempe
Kampung Tempe terletak di Jalan Tenggilis Kauman, Gang Buntu 27, Tenggilis Mejoyo, Surabaya. Kampung Tempe Surabaya sudah ada sejak tahun 1970-an.
Kampung ini merupakan sentra produksi tempe terbesar di Surabaya, bahkan di Indonesia. Banyak warga di kampung ini yang menjadi perajin tempe, kering tempe, dan kripik tempe.
Selain warga yang memproduksi aktif, ada juga para perajin musiman yang bikin olahan tempe jika ada pesanan banyak. Kebanyakan perajin tempe di wilayahnya karena usaha turun temurun.
Proses pembuatan tempe di kampung ini dilakukan secara tradisional, mulai dari perendaman kedelai, penggilingan, peragian, hingga pencetakan.
Tempe yang dihasilkan oleh perajin di Kampung Tempe Surabaya memiliki kualitas yang baik dan rasa yang gurih.
Tempe ini dijual di berbagai pasar tradisional dan modern di Surabaya, serta dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.
Kampung Tempe Surabaya menjadi salah satu destinasi wisata kuliner yang populer di Surabaya. Wisatawan dapat melihat proses pembuatan tempe secara langsung, serta membeli tempe segar untuk dibawa pulang.
Baca Juga: PSSI Gelar Undian Ulang Liga 4 Nasional 2025: Format Baru dan Daftar Lengkap 64 Besar
5. Kampung Sepatu
Kelurahan Tambak Osowilangun, Kecamatan Benowo, Surabaya, terkenal dengan kerajinan sepatu dan sandal. Produksi di sini sudah berjalan sejak 1950-an dan kini mencapai 100 perajin.
Kampung Sepatu berada di ujung barat Kota Surabaya, sebuah kampung padat penduduk dengan sebagaian besar wilayah terdiri dari tambak.
Sepatu di kampung ini diproduksi oleh tangan-tangan terampil yang bekerja secara turun-temurun sejak tahun 1950-an dengan jumlah pengrajin sepatu sebanyak 140 orang perajin.
Kampung ini dapat menghasilkan ribuan kodi sepatu tiap bulan yang siap memasok kebutuhan masyarakat khususnya di wilayah Indonesia Bagian Timur. Banyak merek alas kaki ternama yang juga menggunakan jasa produsen di sini untuk dijual kembali.
Produk-produk yang dihadilkan kampung ini antara lain sepatu fesyen, sepatu wanita, sepatu anak-anak, dan berbagai jenis sepatu lainnya sesuai pesanan.
Itulah beberapa kampung unik di Surabaya yang mampu menjadi andalan perekonomian Kota Pahlawan sekaligus mendongkrak kesejahteraan warganya. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari