
RADAR SURABAYA - Kawasan Ngagel kini dipenuhi permukiman. Tidak banyak yang tahu bahwa wilayah tersebut pernah menjadi sentra peternakan sapi perah sekaligus pengolahan susu modern di Surabaya tempo doeloe.
Pemerhati Sejarah Kota Surabaya Nur Setiawan mengungkapkan, peternakan sapi perah di Ngagel mulai berkembang sekitar 1920-an seiring dengan kebijakan Pemerintah Hindia Belanda yang menjadikan kawasan Ngagel sebagai klaster industri baru.
Baca Juga: Bobol Warkop di Merr Gunung Anyar Surabaya, Terekam Gasak Televisi dan Uang Rp 2 Juta
“Saat itu pusat kota mulai bergeser dari kawasan Jembatan Merah menuju Ketabang, sedangkan Ngagel masih menjadi wilayah pinggiran kota," ujar Nur Setiawan.
Menurutnya, kawasan Ngagel sengaja dikembangkan sebagai pusat industri agar aktivitas ekonomi tidak mengganggu pusat pemerintahan kolonial, tapi tetap saling menopang. Salah satu industri yang tumbuh saat itu adalah peternakan sapi perah lengkap dengan fasilitas pengolahan susu.
Lokasinya di Ngagel Timur, tidak jauh dari pabrik karung. Peternakan tersebut mempekerjakan banyak warga bumiputera. Mulai dari perawat ternak, pemerah susu hingga petugas distribusi.
"Mereka bertugas merawat sapi, memerah susu, lalu mengantarkan susu segar dari rumah ke rumah, ke kantor hingga rumah sakit di sekitar Surabaya," jelasnya.
Baca Juga: Semangat dan Dedikasi Mantri BRI Hadirkan Akses Perbankan bagi Masyarakat Pegunungan Toraja Utara
Meski bukan peternakan terbesar, peternakan Ngagel termasuk yang paling maju dari sisi pengelolaan. Saat itu, Surabaya juga memiliki sejumlah peternakan lain di kawasan Kedung Cowek, Wonocolo, Margorukun, Banyu Urip hingga Benowo.
"Di antara peternakan sapi yang ada di Surabaya, Ngagel tergolong maju karena dikelola secara profesional. Konsumennya berasal dari berbagai kalangan, termasuk perusahaan-perusahaan," katanya.
Tidak hanya memproduksi susu segar sebagai kebutuhan gizi masyarakat, peternakan tersebut juga memasok sapi pedaging ke rumah pemotongan hewan. Aktivitas itu menjadikan Ngagel sebagai salah satu penopang kebutuhan pangan Kota Surabaya pada masa itu.
Memasuki akhir 1970-an, aktivitas peternakan mulai berkurang. Penjualan sapi potong dihentikan dan usaha difokuskan pada produksi susu sapi perah yang didistribusikan kepada pelanggan tetap melalui loper susu.
"Hingga akhir tahun 1970-an peternakan ini masih ada. Namun, saat itu sudah tidak lagi menjual sapi potong. Hanya susu sapi perah yang diantar secara berlangganan dari rumah ke rumah. Masyarakat Ngagel mengenalnya sebagai pemerahan susu sapi Freddy," pungkasnya. (dim)
Editor : Lambertus Hurek