King dan Queen Theatre Jadi Ikon Hiburan di Alun-Alun Contong Surabaya

Lambertus Hurek • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 11:30 WIB

 Gedung tua yang pernah dijadikan Bioskop Queen dan King di Alun-Alun Contong Surabaya. (IST)

Gedung tua yang pernah dijadikan Bioskop Queen dan King di Alun-Alun Contong Surabaya. (IST)

 

RADAR SURABAYA - Kawasan Alun-Alun Contong, Surabaya, menyimpan banyak jejak sejarah yang perlahan menghilang ditelan perkembangan kota. Salah satu yang paling dikenang adalah keberadaan Bioskop King dan Queen, tempat hiburan popular pada era 1960 hingga 1980-an.

Namun, jauh sebelum menjadi bioskop, bangunan tersebut merupakan gedung peninggalan Hindia Belanda milik NV Pharmaceutische Import Mij Helmig en Co yang bergerak di bidang impor obat-obatan. Letaknya berada tepat di depan Alun-Alun Contong dan menjadi salah satu bangunan bergaya kolonial yang mempercantik kawasan tersebut.

Foto-foto lama memperlihatkan kemegahan bangunan dari dua sisi, yakni dari arah Jembatan Peneleh dan Jalan Pahlawan. Arsitektur khas Eropa dengan fasad yang kokoh menjadi penanda penting kawasan perdagangan di sekitar Kalimas pada masa itu.

Baca Juga: Mengapa Tempe Murah di Indonesia tetapi Mahal di Luar Negeri

Budayawan Surabaya Yousri Raja Agam menuturkan, Bioskop King dan Queen mulai berdiri sekitar 1968, ketika industri perfilman nasional tengah mengalami masa keemasan. Awal Orde Baru menjadi masa berkembangnya bisnis bioskop di berbagai kota.

“Banyak gedung lama dialihfungsikan menjadi bioskop, mulai gudang, toko hingga gedung kesenian Tionghoa. Bioskop King dan Queen memanfaatkan bangunan tua peninggalan Hindia Belanda," ujarnya.

Keunikan bioskop ini terletak pada konsep dua ruang pertunjukan dalam satu bangunan. Bioskop King berada di lantai atas, sedangkan Bioskop Queen menempati lantai bawah. Lokasinya berada di Jalan Alun-Alun Contong, di antara Jalan Gemblongan dan Baliwerti.

Sementara itu, anggota komunitas sejarah, Rony Limaran, mengungkapkan, kawasan Alun-Alun Contong sejak dahulu memang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Keramaian kawasan tersebut bermula dari aktivitas perdagangan yang memanfaatkan Sungai Kalimas sebagai jalur transportasi utama. Pedagang dari berbagai daerah berkumpul di kawasan ini untuk melakukan transaksi barang dagangan.

Selain pusat perdagangan, di kawasan tersebut juga pernah berdiri sekolah Tionghoa Chung Hua Chung, tepat di seberang Bioskop King dan Queen.

Baca Juga: Gym dan Lari Jadi Gaya Hidup Baru Anak Muda yang Peduli Kesehatan

"Banyak yang tidak tahu bahwa Alun-Alun Contong dulunya merupakan kawasan yang sangat hidup. Selain menjadi pusat perdagangan, di sini juga berdiri sekolah Chung Hua Chung yang cukup terkenal pada masanya," jelas Rony.

Kenangan lain yang masih melekat di ingatan warga adalah ketatnya aturan memasuki bioskop. Seorang penjaga bertubuh kekar selalu berdiri di pintu masuk untuk memeriksa kartu identitas setiap calon penonton.

Pengunjung yang belum berusia 13 tahun tidak diperbolehkan masuk, sesuai aturan yang diterapkan pengelola bioskop saat itu. Bagi banyak warga Surabaya, momen melewati pemeriksaan tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan. (*) 

Editor : Lambertus Hurek
Bioskop King Bioskop Queen chung hua chung gemblongan baliwerti alun alun contong