RADAR SURABAYA - Pada tahun 1960-an hingga 1990-an, Bioskop Purnama menjadi salah satu tujuan favorit masyarakat. Setiap akhir pekan, terutama malam Minggu, kawasan di sekitar bioskop selalu ramai penikmat film.
Bagi sebagian warga Surabaya, Bioskop Purnama menyimpan kenangan yang sulit dilupakan. Seorang warga mengenang dirinya yang pada era 1960-an sering berangkat beramai-ramai dari kawasan Gubeng menggunakan sepeda ontel hanya untuk menonton film di Purnama.
Baca Juga: Panser Marmon Herrington MK III, Panser Milik Polisi Istimewa di Surabaya
Perjalanan yang cukup jauh tidak menjadi hambatan karena menonton film saat itu merupakan hiburan yang sangat dinanti. Kenangan lain datang dari Alfian. Ia mengisahkan bahwa sekitar September 1991 dirinya diajak orang tuanya menonton film Pengkhianatan G30S/PKI secara gratis di Bioskop Purnama.
Itulah pertama sekaligus terakhir kalinya ia menonton di bioskop tersebut. Saat itu pemerintah memang menggelar pemutaran film tersebut secara serentak di sejumlah bioskop di Surabaya setiap 30 September.
Menurut Alfian, pilihan keluarga saat itu sebenarnya antara Bioskop Ultra atau Bioskop Purnama karena letaknya saling berdekatan. Namun, untuk menonton film-film lain, keluarganya lebih sering memilih Bioskop Mitra di Balai Pemuda, Bioskop Ria di Jalan Kombes Pol M. Duryat, atau Bioskop Bratang.
Alfian juga mengingat bahwa Bioskop Purnama akhirnya menutup operasionalnya sekitar tahun 1997. Kini bangunannya telah berubah menjadi bangunan tua yang sebagian besar tidak lagi utuh. Atap gedung telah hilang, sementara bagian lantai bawah masih dimanfaatkan oleh beberapa toko.
Tak hanya bioskopnya yang membekas di ingatan, suasana di sekitarnya pun ikut menjadi bagian dari nostalgia. Hamida Prakosa mengenang bahwa pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, di samping Bioskop Purnama terdapat depot bakwan pangsit dan kedai es jus yang menjadi tempat favorit anak-anak muda berkumpul sebelum maupun sesudah menonton film.
“Suasana itu menjadikan kawasan Dinoyo hidup hingga malam hari,” kata Hamida yang juga anggota komunitas Soerabaia Tempo Doeloe.
Baca Juga: Pencari Biawak Ditemukan Meninggal Dunia di Bozem Sumberejo Pakal Surabaya
Pada masa jayanya, bioskop bukan sekadar tempat menonton film. Gedung bioskop menjadi ruang berkumpul, tempat bersosialisasi, hingga simbol gaya hidup masyarakat kota. Menonton film bersama keluarga pada akhir pekan merupakan tradisi yang dinantikan banyak orang. Bahkan, bagi sebagian remaja, mengajak pasangan menonton di bioskop menjadi bagian dari kebanggaan tersendiri.
Memasuki dekade 1990-an, perkembangan teknologi hiburan seperti televisi swasta, VCD, hingga kemudian pusat-pusat perbelanjaan dengan bioskop modern perlahan mengubah kebiasaan masyarakat.
Bioskop-bioskop lama yang berdiri sendiri mulai kehilangan penonton. Satu per satu menutup layar mereka, termasuk Bioskop Purnama, yang akhirnya mengakhiri perjalanannya setelah puluhan tahun menjadi bagian dari denyut hiburan Kota Surabaya.
Kini, bekas gedung Bioskop Purnama telah beralih fungsi menjadi tempat penampungan sayuran yang akan dipasarkan ke Pasar Induk Keputran. Meski bangunannya tak lagi menayangkan film, nama Purnama tetap hidup dalam ingatan banyak warga Surabaya. (*)
Editor : Lambertus Hurek