Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Gedung Balai Kota Surabaya Sempat Dijuluki Gedung Seribu Gulden, Begini Alasannya

Dimas Mahendra • Kamis, 4 Juni 2026 | 13:30 WIB

Kondisi Balai Kota Surabaya pada penjajahan Belanda. (KITLV)

Kondisi Balai Kota Surabaya pada penjajahan Belanda. (KITLV)

 

 

RADAR SURABAYA - Balai Kota Surabaya sempat dijuluki sebagai Gedung Seribu Gulden. Julukan itu muncul dari polemik anggaran pembangunan Balai Kota Surabaya pada era Gemeente sekitar awal abad ke-20.

Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan menjelaskan, Pemerintah Kotapraja Surabaya sebenarnya belum punya gedung tetap setelah Gemeente dibentuk pada 1 April 1906. Kala itu, berbagai rapat pemerintahan hingga urusan administrasi dilakukan berpindah-pindah tempat.

Baca Juga: Pelaku Pencurian Mobil Pikap di Kutisari Selatan Surabaya Ditangkap, Gunakan Kunci Duplikat saat Beraksi

“Karena belum punya gedung sendiri, kegiatan pemerintahan masih terpencar di berbagai lokasi. Akhirnya, pada 1916 diputuskan membangun balaikota,” kata Nur Setiawan kemarin.

Wali Kota Surabaya A. Meyroos kemudian menunjuk arsitek ternama Cosmas Citroen untuk merancang balai kota. Awalnya, lokasi pembangunan direncanakan di kawasan Stadstuin yang kini menjadi Gedung Bank Indonesia di Jalan Pahlawan.

Namun, rencana tersebut berubah dua tahun kemudian. Pemerintah memindahkan lokasi ke kawasan yang saat itu masih dianggap pinggiran kota, yakni Balai Kota Surabaya saat ini.

“Gemeente sudah memproyeksikan kawasan itu bakal menjadi pusat Kota Surabaya di masa depan. Karena pindah lokasi, desain yang dibuat Citroen akhirnya harus diubah total,” jelasnya.

Pembangunan Balai Kota Surabaya ternyata tak berjalan mulus. Selain sempat berganti desain, proyek tersebut juga menuai kritik keras dari anggota dewan kotapraja karena dianggap terlalu mahal.

Baca Juga: RSUP dr. Sardjito Yogyakarta Beralih ke Gas Bumi, PGN Dorong Transformasi Green Hospital

Citroen bahkan diminta merombak desain awal yang menggunakan kubah besar. Wali Kota Surabaya berikutnya, GJ Dijkerman, menilai desain berkubah tidak mencerminkan nuansa lokal Surabaya.

Pembangunan akhirnya dimulai pada 1926 dan selesai setahun kemudian. Namun, bangunan Balai Kota Surabaya yang berdiri saat ini ternyata hanya bagian belakang dari desain awal yang jauh lebih besar.

“Karena keterbatasan anggaran dan kondisi ekonomi saat itu, akhirnya yang diselesaikan hanya bagian belakangnya saja,” ujar Nur.

Biaya pembangunan Balai Kota Surabaya kala itu disebut membengkak hingga lebih dari 2,5 juta gulden, belum termasuk pembelian lahan. Nilai tersebut tergolong fantastis pada masanya dan memicu kritik dari sejumlah anggota dewan kotapraja.

Mereka menilai pembangunan gedung dilakukan terlalu tergesa-gesa, sementara anggaran sebesar itu dinilai lebih layak digunakan untuk memperbaiki kawasan permukiman bumiputra di Surabaya.

Menurut Nur Setiawan, julukan Gedung Seribu Gulden diduga muncul karena anggaran awal pembangunan yang jauh lebih kecil sebelum akhirnya membengkak akibat perubahan desain dan krisis ekonomi Eropa yang turut berdampak ke Hindia Belanda. (dim)

Editor : Lambertus Hurek
#seribu gulden #Meyroos #Balai Kota Surabaya #Citroen #wali kota surabaya