Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sekolah Tionghoa Gie Hien di Belakang Penjara Kalisosok Surabaya, Khusus Lansia yang Buta Huruf

Lambertus Hurek • Minggu, 24 Mei 2026 | 05:05 WIB
Pedeta Caleb Tong pernah menjadi guru sekolah Gie Hien di Belakang Penjara Kalisosok Surabaya. (IST)
Pedeta Caleb Tong pernah menjadi guru sekolah Gie Hien di Belakang Penjara Kalisosok Surabaya. (IST)

 

 

RADAR SURABAYA - Kota Surabaya tempo doeloe punya Sekolah Tionghoa yang tumbuh dari semangat swadaya masyarakat. Salah satunya sekolah malam Gie Hien yang berlokasi di Jalan Belakang Penjara Kalisosok Nomor 9-11 Surabaya.

Sekolah Gie Hien meminjam gedung Sekolah Dasar (SD) Nanjing atau Nam Tjhing School pada malam hari. Sekolah ini memiliki peran unik pada era 1950-an. Tidak seperti sekolah pada umumnya, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada malam hari khusus untuk kalangan lanjut usia.

Baca Juga: Persib Hat-trick Juara Liga! Maung Bandung Kunci Gelar usai Tahan Persijap

Para siswa diajarkan membaca dan menulis dalam bahasa Tionghoa atau Mandarin. Menurut mendiang Solomon Tong, sekolah ini berkembang cukup pesat dan diminati. “Suasana tahun 50-an itu sangat semarak,” ujar Solomon dalam buku memoarnya.

Inisiatif pendidikan ini tidak lepas dari peran Peter Tong, yang tiba di Surabaya pada tahun 1951. Ia mengabdikan diri sebagai kepala sekolah secara sukarela. Di bawah kepemimpinannya, sekolah malam Gie Hien mampu menarik sekitar 200 siswa.

Namun, keterbatasan tenaga pengajar menjadi tantangan tersendiri. Dengan hanya tiga orang guru, proses belajar mengajar sering kali tidak mulus. Para pengajar harus membagi perhatian ke banyak siswa dengan latar belakang yang beragam.

Menariknya, semangat belajar para siswa tidak surut meski usia mereka tidak lagi muda. Bahkan, terdapat peserta didik yang telah berusia sekitar 70 tahun, namun tetap antusias mengikuti pelajaran membaca dan menulis.

Baca Juga: Besok Sore, 9 WNI Aktivis Global Sumud Flotilla yang Sempat Ditahan Israel Akan Tiba di Indonesia

Selain itu, beberapa siswa diketahui telah mengenyam pendidikan Belanda sebelumnya, tetapi tetap merasa perlu mempelajari bahasa Mandarin sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

Kegiatan pendidikan ini juga melibatkan anggota keluarga Tong lainnya. Caleb Tong, adik dari Solomon Tong, turut ambil bagian membantu mengajar para lansia di sekolah malam tersebut.

Keberadaan sekolah Gie Hien menjadi cerminan kuatnya kesadaran pendidikan dalam komunitas Tionghoa Surabaya pada masa itu. Meski berlangsung secara sederhana dan dengan keterbatasan fasilitas, semangat belajar dan pengabdian para pengajarnya menjadikan sekolah ini sebagai salah satu jejak penting dalam sejarah pendidikan di Surabaya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#sekolah Tionghoa #sekolah Gie Hien #SD Nanjing #Nam Tjhing School #Solomon Tong