RADAR SURABAYA - Pintu Air Jagir Surabaya menjadi salah satu infrastruktur penting di Surabaya. Bangunan di kawasan Jagir itu telah ada sejak akhir abad ke-19 dan terus mengalami perkembangan hingga kini.
Pegiat Sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa awalnya pintu air Jagir hanya berupa bendungan sederhana (dam) yang dibangun pada masa Hindia Belanda. “Pintu Air Jagir sebenarnya sudah ada sejak akhir abad ke-19. Saat itu masih berupa dam biasa,” ujarnya.
Baca Juga: Bahaya Tersembunyi Nanoplastik! Bisa Picu Stroke, Gangguan Sperma, hingga Janin
Seiring meningkatnya kebutuhan pengelolaan air, pemerintah kolonial kemudian melakukan pengembangan besar pada tahun 1917. Pembangunan tahap kedua ini menghasilkan struktur yang lebih tinggi dan kokoh. Juga dirancang untuk penggunaan jangka panjang.
Menurut pria yang akrab disapa Wawan tersebut, fungsi utama Pintu Air Jagir adalah untuk mengontrol aliran air dari Kali Surabaya, yang merupakan anak Sungai Brantas. Debit air yang kerap meningkat secara tiba-tiba, terutama saat musim hujan, membuat keberadaan pintu air ini sangat vital.
“Ketika musim hujan dan air laut pasang atau terjadi rob, tanpa Pintu Air Jagir, Surabaya berpotensi tergenang. Ini menjadi salah satu bentuk mitigasi bencana sejak zaman Hindia Belanda,” jelasnya.
Tak hanya berperan dalam sistem pengendalian air, kawasan sekitar juga menjadi saksi sejarah perjuangan Arek-Arek Suroboyo saat peristiwa 10 November 1945. Lokasinya yang strategis dimanfaatkan sebagai titik pertahanan.
“Di sekitar Pintu Air Jagir pernah terjadi perlawanan. Para pejuang membuat barikade dan terjadi baku tembak dengan tentara Sekutu,” tambahnya.
Baca Juga: Unity Ride 2026 IMI Surabaya Siap Digelar, Sunmori Jadi Ajang Silaturahmi Bikers
Selain itu, kawasan Jagir sejak dulu dikenal sebagai wilayah yang ramai aktivitas ekonomi. Letaknya yang dekat dengan Pasar Wonokromo menjadikan kawasan ini sebagai jalur penting perdagangan. Ditambah lagi dengan keberadaan stasiun kereta api yang semakin menghidupkan mobilitas masyarakat.
“Jalan Jagir tidak bisa dilepaskan dari dua pilar utama, yaitu ekonomi dan pembangunan. Dari dulu kawasan ini sudah menjadi denyut aktivitas warga,” ungkap Wawan. (*)
Editor : Lambertus Hurek