Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pewarta Soerabaia, Koran Bermuatan Lokal Pertama di Surabaya

Andy Satria • Minggu, 29 Maret 2026 | 13:19 WIB
KORAN LOKAL: Kantor Pewarta Soerabaia, koran bermuatan local pertama di Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
KORAN LOKAL: Kantor Pewarta Soerabaia, koran bermuatan local pertama di Surabaya. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Surabaya dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan pers di Indonesia. 

Bahkan, aktivitas media cetak di kota ini sudah muncul sejak abad ke-19 dan berkembang pesat pada awal abad ke-20.

Baca Juga: Pelaku Kreatif Pemilik KI Bisa Ajukan KUR di Atas Rp 100 Juta, Begini Caranya 

Pegiat sejarah Kota Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa sejak masa kolonial, surat kabar telah menjadi instrumen penting dalam dinamika sosial dan politik di kota pelabuhan tersebut. 

Pada masa itu, berbagai kelompok masyarakat memiliki media masing-masing.

“Di Surabaya ada pers Belanda, pers Tionghoa, dan kemudian pada awal abad ke-20 mulai muncul pers Bumiputera yang membawa muatan lokal,” ujarnya, Minggu (29/3).

Baca Juga: EV Makin Diminati, Transaksi Pengisian Kendaraan Listrik Naik 4 Kali Lipat

Menurut Wawan, sapaan akrab Nur Setiawan, pers Bumiputera tidak sekadar menyampaikan informasi. 

Media tersebut juga menjadi wadah tumbuhnya gagasan kebangsaan yang kemudian melahirkan semangat pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia.

Salah satu surat kabar yang cukup dikenal pada masa itu adalah Pewarta Soerabaia. 

Baca Juga: Tak Kenal Waktu, Pelaku Jambret Ponsel Terekam saat Beraksi di Makam Peneleh Surabaya 

Media ini diinisiasi oleh seorang Belanda bernama Meneer Kommer, dengan dukungan The Kian Sing, seorang intelektual Tionghoa Surabaya yang berperan sebagai pendana sekaligus pemilik surat kabar tersebut.

Pewarta Soerabaia lahir sekitar tahun 1902, pada masa ketika politik dagang Hindia Belanda sedang berkembang pesat. 

Saat itu, arus perdagangan Barat menjadikan Surabaya sebagai salah satu kota industri yang dinamis di kawasan Hindia Belanda.

Baca Juga: Kapitalisasi Pasar BEI Sepekan Terakhir Tergerus Rp 31 Triliun, Ini Penyebabnya

Surat kabar tersebut menggunakan bahasa Melayu Tionghoa, yang pada masa itu cukup luas dipahami oleh masyarakat perkotaan. 

Kehadirannya menjadi bagian dari perubahan atau reformasi jurnalistik pada zamannya.

Awalnya, Pewarta Soerabaia banyak memuat iklan perdagangan dan berita dalam negeri yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi di kota pelabuhan tersebut. 

Baca Juga: Parkir Tunai Ganti Nontunai, DPRD Surabaya Minta Ada Sanksi bagi Pelanggar

Namun dalam perkembangannya, surat kabar ini juga menjadi ruang bagi munculnya gagasan politik kebangsaan. 

“Melalui tulisan para wartawan Bumiputera, Pewarta Soerabaia sempat menjadi corong ide-ide nasionalisme,” kata Wawan.

Hal itu menunjukkan bahwa gerakan kebangsaan pada masa itu mampu menembus berbagai lapisan masyarakat, termasuk media yang awalnya didirikan oleh kalangan non-Bumiputera.

Baca Juga: Pajak Ekspor Batu Bara Masih Dikaji, Kualitas Jadi Pertimbangan Utama

Menurut Wawan, dinamika tersebut menjadi bukti bahwa pers di Surabaya tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai ruang diskusi dan pertukaran gagasan yang turut menumbuhkan kesadaran nasional.

“Dari ruang-ruang redaksi dan lembaran surat kabar inilah, benih-benih pergerakan menuju berdirinya Republik Indonesia mulai tumbuh,” pungkasnya. (sam/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#media #surabaya #tionghoa #kemerdekaan #pergerakan #lokal #cetak #informasi #pelabuhan #politik #koran #kelompok #masyarakat #Aktivitas #Nur Setiawan