RADAR SURABAYA - Bagi warga Surabaya asli yang tidak memiliki kampung halaman atau tidak mudik tempo dulu, libur lebaran lebih banyak dihabiskan dengan berwisata di dalam kota.
Pada tahun 1970-an, pilihan utama mereka jatuh pada Bonbin atau kebun binatang, yang kini lebih dikenal sebagai Kebun Binatang Surabaya (KBS).
Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan, Bonbin sejak lama menjadi destinasi favorit saat libur lebaran bagi masyarakat Surabaya yang tidak mudik.
Baca Juga: Pasar Terang Kembang Jepun Tempo Dulu Jadi Jujukan Anak Muda Surabaya
"Sekitar tahun 1970-an masyarakat Surabaya asli memanfaatkan libur lebaran ke Bonbin atau KBS. Mereka biasanya datang bersama keluarga (rombongan)," tutur Nur.
Menurutnya, kunjungan ke Bonbin biasanya dilakukan pada H-3 lebaran setelah selesai bersilahturahmi ke sanak saudara.
Tidak hanya untuk melihat satwa, mereka juga sering menggelar tikar dan makan bersama di area kompleks wisata tersebut.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Puji Perjuangan Ojol di Momen Idul Fitri, Ini Pesan Menyentuh untuk Para Pengemudi
"Biasanya mereka makan bersama membawa bekal dan menggelar tikar di area kompleks Bonbin," ujarnya.
Wawan, sapaan akrabnya menjelaskan, Bonbin menjadi primadona karena merupakan tempat wisata pertama di Surabaya yang memiliki berbagai jenis satwa, bahkan pernah menjadi wisata satwa terlengkap di Asia Tenggara jauh sebelum adanya Pantai Ria Kenjeran.
"Tahun 1970-an dulu wisata yang jadi andalan ya Bonbin atau KBS sebelum adanya Pantai Ria Kenjeran. Jadi mereka memanfaatkan berkumpul keluarga saat lebaran di obyek wisata satwa itu," jelasnya.
Baca Juga: Heboh di Medsos! Aksi Wanita Rayakan Idulfitri Sambil Merokok Picu Badai Kritik
Harga tiket masuk yang terjangkau juga menjadi daya tarik utama pada masa itu.
"Dulu tiket masuknya antara 50-100 rupiah. Harga yang sangat lumayan murah bagi masyarakat dulu sehingga mereka banyak yang wisata di sana. Mungkin saat ini (era sekarang) juga sama menjadi primadona masyarakat dengan harga yang terjangkau juga," jelasnya.
Selain itu, masyarakat kala itu bahkan memiliki guyonan khas terkait kunjungan ke Bonbin.
"Ya biasanya mereka guyon saat hendak pergi 'gak madakno rupo nang bonbin' (gak menyamakan wajah ke kebun binatang). Bercanda itu menjadi hal kebiasaan sampai sekarang," ujar Wawan.
Untuk datang ke Bonbin, masyarakat pada tahun 1970-an menggunakan moda transportasi seperti bemo roda tiga, becak, bahkan delman yang masih eksis saat itu.
"Kalau dulu mereka menyewa bemo roda tiga untuk datang ke Bonbin. Bahkan di luar KBS dulu banyak sekali becak dan bemo serta delman mengantre untuk menunggu penumpang," tuturnya.
Bonbin atau KBS berdiri sejak 31 Agustus 1916, didirikan oleh H.F.K Kommer, seorang jurnalis asal Belanda.
Baca Juga: Senjata Era Majapahit Cetbang Pernah Ditemukan di Surabaya
Awalnya bernama Soerabaiasche Planten-en Dierentuin dan berlokasi di Kaliondo, kemudian berpindah ke Jalan Groedo pada tahun 1917-1920, dan akhirnya menetap di Jalan Setail sejak tahun 1920 hingga sekarang.
Pada tahun 1927, Wali Kota Dijkerman dan Dewan Kota Surabaya membantu pendanaan dengan membeli tanah seluas 32.000 meter persegi.
Luas tanah terus bertambah dan pada tahun 1939-1940 mencapai 15 hektar beserta pembangunan taman seluas 85.000 meter persegi.
"Tahun 1970an itu merupakan kekayaan dari Bonbin karena menjadi Kebun Binatang terlengkap satwanya di Asia Tenggara," pungkasnya. (rmt)
Editor : Nurista Purnamasari